Sabtu, 09 Februari 2013

" ISA ALMASIH (YESUS KRISTUS) Didalam Alquran.


Isa Almasih (Yesus Kristus) Didalam Alquran
Lebih dari 1400 tahun yang lalu, Muhammad (Mohammed) lahir di Arabia. Ayahnya Abdullah berasal dari suku Qureyshi, dan wafat sebelum Muhammad lahir.

Sebagai seorang anak muda, Muhammad melakukan perjalanan ke Syria dengan pamannya dalam karavan para pedagang. Beberapa tahun kemudian, dia melakukan perjalanan yang sama ketika bekerja pada seorang janda yang berada bernama Khadijah. Dia kemudian mengawini Khadijah dan kendati Muhammad berumur 15 tahun lebih muda, perkawinan mereka bahagia.

Muhammad segera mendapat posisi yang baik diantara orang penting di Mekkah. Orang-orang Mekkah mengklaim diri mereka sebagai keturunan Abraham/Ibrahim.

Sebagai seorang yang membenci kejahatan, Muhammad membenci mereka yang tidak patuh pada Kitab Suci. Dia mempelajari Alkitab/Bible dan kemunafikan diantara orang-orang, penyembahan berhala dan segala sesuatu yang tidak menghormati Allah sangat memuakkan baginya. Dia percaya bahwa Allah telah menurunkan Taurat dan Alkitab/Injil (Bible).

"Allah, Tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup, Yang Berdiri (Memelihara segala sesuatu). Dia menurunkan Kitab (Qur'an) kepada engkau (ya Muhamad) dengan sebenarnya serta membenarkan (Kitab) yang sebelumnya dan Dia menurunkan Taurat dan Injil, Sebelum Qur'an jadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Furqan (yang memperbedakan antara yang hak dengan yang batil)."
Ali Imran 3:2-4

Seorang yang sangat dihormati oleh Muhammad adalah Abraham/Ibrahim, yang disebutnya seorang yang tulus hati dan benar.

"Sesungguhnya Ibrahim seorang ikutan yang ta'at (patuh) kepada Allah, lagi cenderung kepada agama yang lurus dan bukan dia termasuk orang-orang musyrik. Yang berterima kasih atas nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kejalan yang lurus. Kami berikan kepadanya kebajikan didunia. Sesungguhnya dia diakhirat termasuk orang-orang yang saleh. Kemudian Kami wahyukan kepada engkau (ya Muhammad)(yaitu): Ikutlah agama Ibrahim yang lurus. Bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik."
An-Nahl :120-123

Abraham/Ibrahim juga dipandang sebagai seorang yang menuruti perintah Allah:

"(Ingatlah) ketika Ibrahim dicobai oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah), lalu diturutnya sekalian perintah itu. Berkata Allah: Sesungguhnya Aku angkat engkau (ya Ibrahim) menjadi imam (orang ikutan) bagi manusia. Berkata Ibrahim: (Begitu pula hendaknya) dari anak cucuku. Berkata Allah:Tetapi orang-orang yang aniaya tiada mendapat perjanjianKu ini.'"
Al-Baqarah :124

Muhammad memiliki pemahaman yang mendalam tentang Kitab Suci dan kepercayaan pada malaikat yang berkata kepada Zakaria bahwa dia akan mempunyai anak.
(Lukas 1:18, 57-60).

"Lalu Tuhannya menerima Maryam itu dengan penerimaan yang baik, serta menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik. Dan dia dipelihara oleh Zakaria. Tiap-tiap Zakaria masuk ke mihrab menemuinya, didapatinya makanan telah ada didekatnya, lalu ia berkata: Hai Maryam, dari manakah engkau mendapat makanan ini? Maryam menjawab: Ia dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendakiNya tanpa terhisab. Disanalah Zakaria memohon kepada Tuhannya, ia berkata: Ya Tuhanku, anugerahilah aku seorang anak yang baik dari sisiMu, sesungguhnya Engkau Maha mendengarkan do'a.

Kemudian malaikat menyeru Zakaria, ketika ia berdiri sembahyang di mihrab. Sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan (seorang anak), Yahya, yang membenarkan kalimat dari Allah (yakni Isa), dan menjadi ikutan dan sangat suci serta menjadi nabi diantara orang-orang yang salih.

Zakaria berkata: Ya Tuhanku, bagaimanakah aku akan mendapat seorang anak, sedang aku telah sangat tua dan isteriku mandul. Allah berkata: (Ya), seperti demikianlah, Allah memperbuat apa-apa yang dikehendakiNya.

Zakaria berkata: Ya Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tanda (perempuanku telah hamil). Allah berfirman: Tandanya, bahwa engkau tiada bercakap-cakap dengan manusia tiga hari, kecuali dengan isyarat saja. Ingatlah akan TuhanMu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah pada petang dan pagi.

(Ingatlah) ketika malaikat berkata: Ya, Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih engkau, menyucikan engkau dan memilih engkau diatas perempuan-perempuan dalam alam.

Ya, Maryam, ta'atlah kepada Tuhanmu, sujudlah dan ruku'lah bersama-orang-orang yang ruku'.

Demikian itu ialah pekabaran gaib (tiada kelihatan oleh engkau). Kami wahyukan kepada engkau,, sedang engkau tiada hadir dekat mereka, ketika mereka menjatuhkan kalam (undiannya), (supaya nyata) siapa akan memelihara Maryam; dan lagi engkau tiada hadir dekat mereka, ketika mereka itu berbantah-bantah.

(Ingatlah) ketika malaikat berkata: Ya, Maryam, sesungguhnya Allah memberi kabar gembira kepada engkau dengan kalimat dai padaNya (yakni seorang anak), namanya Almasih 'Isa anak Maryam, yang mempunyai kebesaran didunia dan akhirat dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Tuhan.

Dia bercakap-cakap dengan manusia ketika dalam buaian (ketika masih bayi) dan ketika dewasa dan dia termasuk orang-orang salih.

Maryam berkata: Ya, Tuhanku, bagaimanakah aku akan mendapat seorang anak, padahal aku belum pernah disentuh laki-laki. Allah berkata: Demikianlah, Allah menjadikan apa-apa yang dikehendakiNya; apabila Ia hendak memutuskan suatu pekerjaan, Ia hanya berkata: Jadilah engkau, lalu jadilah ia."
Ali Imran 3:37-47

Muhammad juga berbicara tentang kebangkitan Yesus:

"There upon she pointed to him. They said, 'How can we talk to one who is a child in the cradle?' Jesus said, 'I am a servant of ALLAH. HE has given me the Book, and has made me a Prophet; 'And HE has made me blessed wheresoever I may be, and has enjoined upon me Prayer and almsgiving so long as I live; 'And HE has made me dutiful towards my mother, and has not made me arrogant and graceless; 'And peace was on me the day I was born, and peace will be on me the day I shall die, and the day I shall be raised up to life again.' That was Jesus, son of Mary. This is a statement of the truth concerning which they entertain doubt." QS 19:30-35

Lalu Maryam mengisyaratkan kepada anaknya. Mereka berkata: Bagaimanakah kami akan berbicara dengan bayi yang masih dalam buaian?

Dia berkata: Sesungguhnya aku seorang hamba Allah. DiberikanNya kepadaku Alkitab (Injil) dan dijadikanNya aku seorang nabi,

Dan dijadikanNya aku seorang yang diberkati (berguna untuk manusia), dimana aku berada dan diwasiatkanNya kepadaku (mengerjakan) sembahyang dan (membayarkan) zakat selama aku masih hidup,

Dan berbuat baik kepada ibuku dan bukanlah aku dijadikanNya seorang yang sombong dan durhaka. Selamat sejahtera bagiku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku diwafatkan dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.

Itulah 'Isa anak Maryam dan itulah kata kebenaran yang mereka ragu-ragu tentang (kebenaran)nya.

Nama Yesus dalam Al Qur’an

Ada dua nama yang digunakan bagi Yesus dalam Al Qur’an, yaitu ‘Isâ dan Ibnu Maryam [Qs. Ali ‘Imran/3:45]. ‘Isa menjadi semacam personal name bagi Yesus dalam masyarakat Arab.
Persoalannya adalah, mengapa ia disebut ‘Isa?
Jika kita membaca Alkitab berbahasa Arab, maka nama yang digunakan bukanlah ‘Isa, melainkan Yasu’a.

Untuk memahami hal ini, pertama-tama kita harus mengetahui latar belakang pengenalan Muhammad akan Yesus. Muhammad adalah seorang warga Makkah yang awalnya berprofesi sebagai pedagang, mengikuti pamannya, yang membesarkannya. Perdagangan Muhammad termasuk sukses. Ia berhasil mencapai negeri Syam (Syria) untuk menjual barang dagangannya. Pada masa itu, Syam merupakan kota sentra-niaga atau bisa dikatakan sebagai kota metropolitan di negeri Arab.

Mayoritas penduduk Syam pada masa itu beragama Kristen. Kekristenan di Syam didominasi oleh kelompok Yakobit, di samping Melkit dan beberapa kelompok Kristen lainnya. Selain menggunakan bahasa Arab, penduduk Syam menggunakan bahasa Aramik sebagai lingua franca-nya. Gereja-gereja di Syam juga menggunakan bahasa Aramik sebagai salah satu bahasa liturginya, termasuk dalam menyampaikan pengajarannya.

Penduduk Syam pada waktu itu, menyebut Yesus sebagai Yasu atau ‘Ishō. Jika ‘Isō dirubah ke dalam bahasa Arab, maka akan menjadi ‘Isâ, sebab biasanya huruf “o” panjang dalam bahasa Aramik dan Ibrani akan berubah menjadi huruf “a” dalam bahasa Arab. Misalnya kata shalōm dalam bahasa Ibrani sama pengertiannya dengan kata salâm dalam bahasa Arab. Jadi, penggunaan nama ‘Isa oleh Muhammad dan dalam Al Qur’an dapat diterima dan dibenarkan. Kita tidak usah memperpanjang perdebatan tentang penggunaan nama ini.

Ibnu Maryam bisa dikatakan sebagai marga bagi Yesus. Secara harafiah, Ibnu Maryam dapat diartikan “Putra Maryam”[1] Bagi beberapa kalangan Kristen, penyebutan Ibnu Maryam bagi Yesus merupakan salah satu bentuk pengakuan Muhammad atas virginitas Maria, sebab dalam tradisi Arab, biasanya nama yang disertakan kepada nama seorang anak adalah nama bapaknya, bukan ibunya (Mestinya Yesus disebut Ibnu Yusuf). Selain itu, beberapa ahli mengatakan bahwa penyebutan ini juga lebih menunjukkan pada pengakuan Muhammad atas keistimewaan Maria sebagai seorang perempuan suci.

Al Qur’an sendiri sangat menghormati sosok Maria (Maryam). Dengan jelas Al Qur’an menceritakan bagaimana Maria dilindungi oleh Tuhan dari hinaan orang-orang Yahudi karena dituduh melakukan hubungan seks di luar nikah. Peristiwa kelahiran Yesus sendiri diset sedemikian rupa untuk menghormati Maria, ibu Yesus. Kemungkinan besar, Muhammad mendapat pengaruh dari tradisi gereja ortodoks yang begitu mengagungkan Maria.[2]

Bagi kebanyakan orang Kristen, Yesus lebih dikenal dengan sebutan ‘Isa Al Masih, namun, dalam Al Qur’an, sebutan yang justru lebih dikenal adalah ‘Isa Ibnu Maryam. Masing-masing sebutan ini memiliki makna tersendiri jika diinterpretasikan lebih jauh.

Gelar-gelar Yesus dalam Al Qur’an

Ada empat gelar utama yang diberikan kepada Yesus di dalam Al Qur’an, yaitu:
‘Abdullahu (hamba Allah) [Qs. An Nisa/4:172, Maryam/19:30],
Nabīun [Qs. Maryam/19:30]
Rasūlullahu (utusan Allah) [Qs. Ali ‘Imran/3:49, An Nisa/4:157,171, Al Ma’idah/5:75, Ash Shaff/61:6]
Al Masīhu [Qs. Ali ‘Imran/3:45].
Keempat gelar ini, jika dikaji secara teologi Islam, memiliki makna dan nilai teologis yang berbeda. Misalnya gelar ‘Abdullahu yang secara harafiah dapat berarti “abdi Allah” atau “hamba Allah”.

Gelar ini dalam wacana teologi Islam merupakan gelar yang umum dan bisa disandang oleh siapa saja yang mengabdikan dirinya untuk pekerjaan agama. Seorang pengajar di sebuah sekolah Islam dapat disebut sebagai abdi atau hamba Allah. Diberikannya gelar ini kepada Yesus menunjukkan suatu bentuk pengabdian Yesus atas pekerjaan atau amanat Allah. Ia adalah seorang hamba Allah, yang bekerja atas petunjuk Allah.

Gelar Nabi merupakan gelar yang lebih spesifik dibanding gelar ‘Abdullahu. Tidak semua ‘Abdullahu dapat disebut sebagai Nabiun, tapi semua Nabiun pastilah seorang ‘Abdullahu.

Dalam kepercayaan Islam, diakui ada 25 Nabiun yang diutus oleh Allah, mulai dari Adam hingga Muhammad. Yang penting untuk dicatat di sini bahwa ada definisi yang berbeda akan pemahaman Nabiun dalam Islam dengan Nabiun (Nabi) dalam Kristen, meskipun keduanya menggunakan kata yang sama.

Nabiun dalam pemahaman Kristen mengikuti pemikiran Yahudi, di mana seorang Nabiun haruslah berasal dari keturunan Yakub (Israel). Ia harus menyampaikan pesan Tuhan kepada umat dan merupakan seorang yang menyampaikan nubuat Ilahi. Dalam pemahaman Islam, seorang Nabiun adalah seorang utusan Tuhan yang menjalankan amanat Tuhan. Ia dibekali dengan pengajaran-pengajaran dari Tuhan yang harus ia sampaikan.

Di antara gelar-gelar tersebut, Rasūlullahu adalah gelar yang paling spesifik. Tidak semua ‘Abdullahu dan Nabiun adalah Rasulūllahu, tapi semua Rasulūllahu adalah ‘Abdullahu dan juga Nabiun.

Menurut definisi beberapa mufassir Islam, Rasulūllahu memiliki pengajaran yang lebih universal. Karena itu, ia diberi sebuah kitab pegangan oleh Allah yang harus ia sampaikan kepada umat Allah. Begitu spesifiknya gelar ini, sehingga hanya ada 5 orang Rasulūllahu yang diakui dalam Islam, yaitu: Nuh, Ibrahim, Musa, ‘Isa (Yesus), dan Muhammad.

Meskipun menggunakan istilah yang sama dengan Kristen, namun Rasul dalam pemahaman Islam jelas berbeda dengan Rasul dalam pemahaman Kristen.

Rasul dalam pandangan Kristen lebih menunjuk kepada ke-12 murid Yesus ditambah Matias (pengganti Yudas Iskhariot) dan Paulus. Rasul dalam pandangan Islam lebih menunjuk kepada mereka yang menerima wahyu dari Tuhan dan mendapat amanat secara langsung dari Tuhan.

Gelar Al Masīhu adalah gelar yang kontroversial. Gelar ini dalam Al Qur’an hanya diberikan kepada Yesus, karena itu ada beberapa kalangan Islam yang menganggap bahwa Al Masīhu adalah nama diri bagi Yesus. Kata Al Masīhu berasal dari kata Masīhun, yang dalam bahasa Arab memiliki dua pengertian, yaitu:

(1) Orang yang diurapi dengan minyak atau orang yang diminyaki
(2) Orang yang bepergian.

Maulana M. Ali, seorang penerjemah dan penafsir Al Qur’an dalam terjemahan yang dilengkapi tafsir Al Qur’an ke dalam bahasa Inggris mengatakan bahwa Yesus diberi gelar Al Masīhu karena ia adalah seorang yang gemar melakukan perjalanan jauh. Konon, ia dikatakan pernah berjalan hingga ke sepuluh suku Israel yang hilang dan menetap di negeri Timur, yaitu Afghanistan dan Kasymir.[3]

Beberapa kalangan Islam liberal justru melihat kesamaan akar katanya dengan kata “Meshikha” dalam bahasa Aram (Syria). Dalam bahasa Ibrani, kata ini berasal dari kata Mashiakh yang artinya “Mesias”. Dalam bahasa Yunani, kata ini diterjemahkan dengan kata Χριστος (Khristos) atau dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Kristus”, yang artinya sama dengan “Mesias” yaitu “Yang Diurapi”.

Gagasan ini paling sulit diterima oleh umat Islam pada umumnya, apalagi dalam teologi Kristen, Mesias atau Kristus memiliki makna yang luar biasa, khususnya dalam pandangan Mesianik penulis Injil Yohanes.
Mesias bukan saja seorang nabi yang dijanjikan Tuhan sejak zaman para nabi sebelumnya, namun ia adalah juga Sang Pembebas (bukan dalam makna politik, namun teo-politikal) manusia dan bahkan Juru Selamat (Salvator; Savior).

Keistimewaan Lainnya

1. Kalimatullah

Yesus memiliki banyak keistimewaan dalam Al Qur’an.
Dalam surat Ali ‘Imran/3:45 [terjemahan Depag RI tahun 1998], berbunyi,
“(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masīh ‘Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).”

Makna yang dapat kita tangkap dari terjemahan ini adalah bahwa Yesus adalah seorang putera Maria yang diciptakan dengan ‘kalimat’ dari Tuhan.

Secara harafiah mestinya ayat ini berarti, “Ketika Malaikat berkata: ‘Hai, Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan (yaitu) kalimat (Firman) dari Dia yang namanya Al Masīh putra Maryam, seorang yang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk al muqarrabīn [4]”

Memang tidak semua mufassir Islam menafsirkan ayat tersebut sebagaimana penafsiran Departemen Agama RI. Terdapat juga di antara para mufassir itu yang mengakui bahwa Yesus diakui sebagai kalimatullah dalam Al Qur’an. Mereka berpendapat bahwa Yesus adalah benar-benar kalimatullah (Firman Allah) dan itu tidak bisa disangkal. Namun, Firman Allah bukanlah sebagaimana pemahaman Kristen.

Dalam pemahaman Kristen, Yesus adalah Firman yang nuzul menjadi daging (manusia). Firman itu adalah yang kekal bersama-sama dengan Allah atau apa yang dibahasakan oleh kaum Asy’ariah sebagai “Sifat Allah”.

Olaf Schumann mengatakan :
(Dalam suatu kesempatan di Studium Generale yang diadakan oleh STT Apostolos)

Bahwa kita harus membedakan pemahaman akan Al Kalamu dengan Al Kalimatu. Al Qur’an menyebut Firman yang adalah Sifat Tuhan itu dengan Al Kalamu, sedangkan Al Kalimatu menunjuk pada karya-karya Tuhan, seperti gunung, lautan, dan sebagainya. Jadi, pemberian gelar Kalimatullah bagi Yesus tidak kemudian dipahami bahwa Yesus adalah Kalamullah. Jadi, keliru juga penafsiran yang mengatakan bahwa Yesus diciptakan dengan kalimat dari Tuhan, sebab ia adalah kalimat itu sendiri, namun bukan juga kemudian ditafsirkan sebagai kalamullah.
2. Rūhullah

Yesus dalam surat An Nisa/4:171 disebut sebagai “Rūh yang dari Allah” sedangkan dalam surat At Tahrim/66:12 dikatakan bahwa Yesus adalah “Rūh Allah yang ditiupkan ke dalam rahim Maria.”

Mengenai hal ini juga terdapat perbedaan opini di antara para mufassir Islam.

Mereka menghubungkan hal ini dengan Ruhul quddus (Roh Kudus).[5]

Pemikiran Islam umumnya didominasi oleh pemahaman bahwa yang dimaksud dengan Ruhul quddus itu adalah Malaikat Jibril. Malaikat Jibril dianggap sebagai Malaikat yang menyampaikan kabar kepada Maria tentang kelahiran Yesus dan juga dikatakan turut membantu kelahiran Yesus. Karena itu, penafsiran yang berkembang kemudian mengatakan bahwa yang dimaksud oleh kedua ayat di atas adalah bahwa Yesus lahir dengan bantuan Malaikat Jibril.

Rūhullah sebetulnya berbicara tentang Roh Allah itu sendiri. Dalam pemahaman Kristen, Roh Allah atau yang kemudian disebut dengan Roh Kudus, adalah salah satu hupostasis Tuhan atau bisa dikatakan sebagai Sifat Tuhan. Roh Allah melekat sehakekat dengan Esensi Tuhan (Ouisa). Namun, tentunya harus kita ingat bahwa kita tidak sedang berbicara tentang teologi Kristen, melainkan Islam. Dalam penafsiran kebanyakn mufassir Islam, Yesus tidak disebut sebagai Rūhullah. Ia hanya diciptakan dengan Rūhullah dengan bantuan Malaikat Jibril (Rūhul quddus).

3. Al Muqarrabīn

Dalam Qs. Ali ‘Imran/3:45 disebutkan bahwa Yesus adalah termasuk dalam al muqarrabīn. Kata ini secara harafiah berarti “yang didekatkan”.
Departemen Agama RI menerjemahkannya dengan kalimat “orang-orang yang didekatkan kepada Allah”, namun pengertian ini pun masih sulit untuk dipahami.

Dalam surat Al Waqi’ah/56:8-10 disebutkan adanya tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti, yaitu:

(1) Golongan kiri,
(2) Golongan kanan, dan
(3) Golongan yang paling dahulu beriman
[menurut terjemahan Depag RI].

Menurut Al Qur’an, dalam ayat-ayat selanjutnya, dikatakan bahwa golongan yang ketiga ini adalah golongan yang didekatkan (kepada Allah).
Merekalah yang terlebih dulu masuk surga [menurut penafsiran Depag RI]. Sedangkan, golongan kanan adalah juga orang-orang yang berhak atas surga. Jika golongan ketiga ditafsirkan sebagai golongan yang lebih dulu masuk surga, maka berarti golongan kanan adalah yang kemudian. Golongan kiri digambarkan sebagai golongan yang akan mengalami penderitaan dan siksaan. Bisa dikatakan bahwa tempat mereka adalah di neraka.

Yang dimaksud dengan golongan al muqarrabīn adalah mereka yang masuk golongan ketiga. Pada ayat 10 dan 11 jelas sekali disebutkan siapa yang masuk golongan ketiga. Ayat tersebut berbunyi “dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang terdahulu. Mereka itulah al muqarrabūn”

Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu.Dan orang-orang yang paling dahulu beriman, merekalah yang paling dulu (masuk surga). Mereka itulah orang yang didekatkan (kepada Allah). Berada dalam surga kenikmatan.
QS 56:8-10

Al Qur’an menyebut Yesus sebagai salah seorang yang termasuk dalam golongan ini. Artinya, bahwa Yesus adalah yang terdahulu masuk surga bersama-sama dengan orang-orang lainnya yang masuk dalam golongan yang ketiga ini.

Memang masih kurang jelas penafsiran akan golongan ini, kemungkinan mereka adalah orang-orang yang diutus Tuhan dan kemudian diangkat ke surga, seperti Henokh dan Elia.

Kemungkinan lain bahwa ada suatu kelompok manusia tersendiri yang dipilih Tuhan untuk masuk lebih dulu ke dalam surga pada hari kiamat. Kelompok ini, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas, disebut sebagai as sâbiqūn (yang terdepan).

4. Jīhan, Ash Shālihīn, dan Mubārakan

Dalam surat Ali ‘Imran/3:45 terdapat janji Malaikat [Jibril] kepada Maria ketika Malaikat itu diutus untuk menyampaikan kabar gembira tentang kelahiran Yesus kepada Maria. Dalam Al Qur’an terjemahan Depag RI diterjemahkan “orang yang terkemuka di dunia dan di akhirat”. “Orang yang terkemuka” merupakan terjemahan untuk kata jīhan. Kata ini juga sebetulnya dapat diartikan sebagai “orang yang dihormati”.

Tafsiran terhadap ayat ini sepertinya kurang mendapat perhatian dari para mufassir Islam. Sedikit sekali bahkan mungkin tidak ada seorang pun mufassir yang mencoba menjelaskan lebih jauh apa yang dimaksud Al Qur’an dengan pernyataan tersebut. Mestinya, harus ada alasan kenapa Yesus disebut sebagai orang yang terkemuka (dihormati) di dunia dan di akhirat.

Kalangan Kristen “fundamentalis” tentu akan memanfaatkan ayat ini dalam upaya mencari kelemahan pandangan Islam tentang Yesus.

Jika Yesus memang adalah yang terkemuka di dunia dan di akhirat, kenapa kemudian bukan Yesus yang dijadikan tokoh sentral dari ajaran Islam?

Namun, barangkali ayat ini mau dikaitkan dengan pernyataan berikutnya yang mengatakan bahwa Yesus adalah yang didekatkan kepada Allah atau al muqarrabīn tadi. Tapi, apakah “terkemuka” (jīhan) yang dimaksud di situ identik dengan “terdahulu” (al muqarrabīn)?
Hal ini masih bisa dikaji lebih jauh.

Selain dikatakan sebagai jīhan, Yesus juga dikatakan sebagai orang yang termasuk dalam kelompok orang-orang saleh (ash shālihīn).

Pernyataan lainnya tentang Yesus yaitu bahwa Yesus adalah seorang yang diberkati di mana saja ia berada. Untuk hal ini, “berkat” dalam pemahaman Islam  tentunya tidak saja berbicara tentang pemberian materi atau harta oleh Tuhan. Berkat mengandung makna teologis yang luas, di mana rasa aman termasuk di dalamnya. Artinya, berkat tidak hanya berbicara physically semata, melainkan seluruh aspek dari kehidupan manusia, yaitu jasmani dan rohani.

Masih ada begitu banyak kesaksian Al Qur’an tentang Yesus. Namun, semuanya itu harus dipahami dalam pemahaman teologi Islam. Banyak kalangan berupaya mencari kesaksian Al Qur’an tentang Yesus yang adalah ilahi, namun pada akhirnya kesan yang muncul adalah terlalu dipaksakan. Al Qur’an menyorot Yesus yang historis, bukan Yesus yang dogmatis. Setiap gelar yang dikenakan kepada Yesus lebih dipahami dalam makna humanis, misalnya al masīhun (Mesias), kalimatullah (Firman Allah), Rūhullah (Roh Allah) ataupun gelar-gelar lainnya.

Namun demikian, Al Qur’an, sama halnya dengan Injil, masih memasukkan unsur mitologi dalam penjelasannya tentang Yesus. Untuk itu, historisistas Yesus yang murni tanpa percampuran mitologi tidak akan pernah ditemukan dalam teks-teks yang ada dan diakui sekarang ini. Untuk memahami historisitas Yesus tersebut, tawaran Rudolf Bultman tetap menjadi alternatif terbaik, yaitu demitologisasi.
Demitologisasi adalah sebuah istilah untuk usaha yang pernah Rudolf Bultmann lakukan yang menafsirkan Perjanjian Baru secara eksistensial.

Istilah “demitologisasi” dipopulerkan oleh Rudolf Bultmann pada tahun 1941. Usaha Bultmann untuk menafsirkan Perjanjian Baru ini dibantu oleh beberapa temannya, seperti Paul Tillich, dan Wilhelm Hermuller. Keinginan Bultmann ini didasari tujuannya untuk menafsirkan sesuatu yang ia anggap bersifat mitos atau mitologis ke dalam pengertian yang bisa dipahami oleh manusia modern.

Tujuan utama demitologisasi ini adalah untuk mencari dan menafsirkan mitos-mitos yang ada dalam Alkitab, disamping niatnya untuk menginterpretasikan nas-nas Perjanjian Baru. Tujuan Bultmann menginterpretasikan nas Perjanjian Baru adalah agar manusia modern memahami maksud dari nast itu sendiri
Footnote :
[1] Maryam merupakan sebutan Arab untuk Maria, ibu Yesus
[2] Dalam liturgi gereja ortodoks, Maria disebut sebagai “orang yang penuh rahmat”. Tradisi pengagungan Maria juga dilanjutkan oleh gereja Katolik. Tradisi ini baru mendapat kritikan pada zaman reformasi gereja, terutama setelah Luther mengkritik pemujaan terhadap icon-icon gereja
[3] Maulana M. Ali. The Holy Qur’an: Arabic Text, English Translation and Commentary, diterjemahkan oleh H.M. Bachrun (Jakarta: Darul Kutubil Islamiyah)
[4] al muqqarabin secara harafiah artinya “yang didekatkan”
[5] Ada perbedaan antara Rūhul quddus dengan Rūhul quddūs. Rūhul quddus adalah rūh yang berada di luar dzat Allah dalam bentuk ciptaan, seperti malaikat, dsb.


SIFAT DAN KEKUASAANNYA

Pengungkapan watak Isa Al Masih dari Al-Qur’an, menurut ulasan para ahli kitab dan karya tulis kaum Sufi/Ahli Tasawuf.

Isa Al Masih, Kelahiran Seorang Perawan
Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa Isa dilahirkan dari seorang perawan.  Kejadiannya digambarkan sebagai berikut:
Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih, Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah ...
Kata Maryam: “Wahai Tuhanku!  Bagaimana aku dapat memperoleh anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun?” Allah berfirman dengan perantaraan Malaikat Jibril: “Begitulah.  Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki.  Bila Dia menghendaki sesuatu, hanya tinggal, mengucapkan saja “Kun” lalu jadilah ia.’ [1]
Dari ayat tersebut kita bisa melihat bahwa Maryam belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun dan kelahiran Isa Al Masih nyata sebagai suatu keputusan Allah.  Keunikan Isa Al Masih masuk ke dalam sejarah bukan semata-mata suatu kejadian alam, tetapi merupakan suatu mujizat yang disengaja mempunyai satu maksud, di mana Al-Qur’an menyatakan:
Allah mengetahui isi kandungan setiap perempuan, baik kandungan yang kurang, maupun yang berlebih.  Segala-galanya di sisi Allah serba berukuran. [2]
 Pengetahuan Allah atas hal tersebut dan maksudnya secara rinci atas ciptaanNya lebih jauh ditekankan dalam penyataan berikut:
Kami tidak menjadikan ruang angkasa yang amat luas dan persada bumi yang terhampar ini, begitu juga apa-apa yang berada di antara keduanya, secara main-main. [3]
Allah tidak melakukan hal-hal yang sia-sia, tetapi segala-galanya diciptakan atas kebijakan-Nya yang Maha Agung dan memiliki maksud tertentu.  Jadi sementara Allah menetapkan bahwa setiap manusia ditakdirkan lahir akibat bersatunya laki-laki dan perempuan, Ia juga menetapkan Isa lahir dari Maryam yang tidak disentuh oleh laki-laki.  Hal ini diterima tanpa suatu perdebatan oleh para ilmuwan Muslim.  Keunikan dari pengakuan tersebut diungkapkan oleh Shabestari dalam penyataannya sebagai berikut:
Jelas tidak ada orang yang dilahirkan tanpa bapa, hanya seorang saja yakni Isa yang hidup atau hadir di dunia ini. [4]

Isa Al Masih, Orang yang Tidak Berdosa
Salah satu sifat yang unik dari Isa Al Masih adalah ia tidak berdosa, sementara manusia lainnya bahkan nabi-nabi sekalipun, di suatu saat sadar atau tidak sadar pernah bersalah dalam pikiran atau perbuatannya.  Hanya Isa Al Masihlah yang tetap suci.
 Di dalam Al-Qur’an banyak bukti-bukti yang menunjukkan Adam, Musa dan Muhammad semuanya pernah berdosa.  Ibrahim sendiri menemukan dirinya perlu bertaubat, meskipun hubungannya dengan Allah dekat dan Al-Qur’an sendiri mengungkapkannya dalam suatu soal jawab dengan Allah suatu waktu, ayat itu berbunyi seperti berikut:
Setelah Ibrahim merasa rasa takutnya  hilang bahkan mendapat berita gembira, mulailah dia berbincang-bincang dengan Kami tentang kaum Luth.[5]
Meskipun Ibrahim sangat dekat dengan Allah, ia masih mengungkapkan perlunya meminta pengampunan kehadirat Allah:
“Yang menciptakan aku, dan Dia-lah yang menunjuki aku.  Dan yang memberi makan dan minum-ku.  Jika aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkanku. Dia yang mematikanku, kemudian Dia pula yang menghidupkanku kembali di akhirat.  Dia-lah yang sangat kuharapkan sudi mengampuni kesalahanku pada Hari Pembalasan”. [6]
Musa yang dikasihi Allah di mana Dia langsung berbicara dengannya, [7] juga menemukan dia perlu meminta pengampunan setelah ia menyerang dan membunuh seorang warga Mesir, dan mengatakan:
Musa berdoa: “Ya Tuhanku!  Bahwasanya aku telah berlaku aniaya terhadap diriku sendiri, karena itu ampunilah aku”.  Lalu Allah mengampuninya.  Sesungguhnya Dia Maha Pengampun dan Penyayang. [8]
Begitupun Daud meminta pengampunan Tuhannya sambil menjatuhkan dirinya ke tanah, bersujud dan meminta ampunan. [9]
Jadi ketiga Nabi tersebut: Ibrahim, Musa dan Daud menyadari perlunya pengampunan dari Allah.
Nabi Muhammad juga menemukan dosa-dosanya, sebelum ia diangkat sebagai nabi, di mana ia merasa berat menanggungnya.  Hal ini dibenarkan dalam Al-Qur’an:
“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu?  Dan Kami telah menurunkan bebanmu yang telah memberati punggungmu?” [10]
Beban yang dipikul Nabi Muhammad di punggungnya bukan berupa beban fizikal, tetapi beban rohaniah .  Kata (Wezr) yang diterjemahkan sebagai “beban” dalam ayat tersebut di atas merupakan kata  khusus yang bererti dosa dalam bahasa Al-Qur’an.  Contoh dalam Al-Qur’an 16:25 yang menyatakan: “Kami takdirkan mereka berucap demikian, supaya mereka memikul dosanya (awzar, jamak kepada wezr) sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, berikut dengan seBagiandosa dari orang-orang yang mereka sesatkan karena tidak mengetahui.  Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul.” (Lihat juga pada Al-Qur’an 6:31, 6:164, 17:15, 20:100, 35:18).
Sementara Al-Qur’an menyatakan dosa-dosa yang terdahulu dalam fakta kehidupan Nabi Muhammad, dikatakan juga tentang dosa-dosa “kemudian”:
Supaya Allah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan memimpinmu ke jalan yang lurus. [11]
Ini juga disahkan oleh Hadis yang mengatakan Nabi Muhammad dahulu terbiasa  ‘memohon pengampunan dan menghadap Allah bertaubat lebih dari tujuh puluh kali sehari’ [12] Bukhari mencatat doa Muhammad meminta pengampunan sebagai berikut:
Ya, Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku dan kelalaianku yang melampaui batas kebenaran dalam perbuatan-perbuatanku; dan ampunilah apa saja yang Engkau paling ketahui daripadaku sendiri. Ya Allah! Ampunilah kesalahan-kesalahanku yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, yang tidak disadari sebagai olok-olok atau yang lebih berat, dan semua yang ada dalam diriku [13]
Memang benar ia terus meminta pengampunan sampai nafasnya yang penghabisan. [14]
Dosa-dosa seluruh umat manusia dibenarkan lebih jauh lagi oleh Hadis yang mengatakan: ‘Syetan selalu bercokol dalam pikiran manusia seperti darah mengalir dalam tubuhnya.” [15]
Kecuali seorang manusia yang oleh Al-Qur’an ataupun Hadis dianggap suci dari dosa adalah Isa Al Masih.  Ia tidak pernah berbuat dosa, tidak berbuat kesalahan dan tidak pernah melewati batas-batas yang telah ditetapkan Allah secara sengaja atau karena berbuat bodoh, secara olok-olok atau secara serius, secara sengaja ataupun tidak sengaja.  Isa Al Masih digambarkan dalam Al-Qur’an 19:19 sebagai ‘seorang putera yang suci (zakeyia)’ [16] , bahkan sebelum dilahirkan.  Baidawi menjelaskan bahwa ‘seorang anak yang suci berarti suci dari dosa-dosa’.  Di dalam seluruh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak ada lagi yang digambarkan sebagai yang suci kecuali Isa Al Masih. [17]
Hadis juga menyatakan bahwa Isa Al Masih sebagai orang yang tidak berdosa. Bukhari, contohnya mengaitkannya dengan Hadis berikut:
Ketika setiap orang dilahirkan (tersurat: semua anak Adam begitu semasa mereka dilahirkan), Syetan menyentuh (tersurat: menggosok) kedua belah badannya dari kanan dan dari kiri dengan kedua jarinya, kecuali Isa anak Maryam, meskipun ia juga dicoba tapi tidak berhasil. [18]
Baidawi menerangkan arti dari ‘sentuhan atau gosokan’ Syetan sebagai ‘upaya menggoda setiap bayi yang baru lahir sehingga anak tersebut bisa dipengaruhinya’. [19]   Syetan, musuh berbuyutan Allah dengan demikian berjuang dengan cara yang tidak adil.  Ia mencari jalan menggoda orang dari saat pertama mereka mulai hidup, dan hanya seorang manusia yang bisa menguasai Syetan dalam babak pertama ini.  Ia adalah Isa Al Masih. Suyuti mengutip Ibni ‘Abbas, yang mengatakan:
Di antara mereka yang dilahirkan, hanya Isa anak Maryam yang tidak disentuh oleh Syetan dan tidak bisa ditaklukkan olehnya. [20]
Mengapa Isa tidak bisa tertandingi dan berbeda? Beberapa orang mengatakan bahwa karena ia diurapi:
Ia dinamakan Al Masih karena ia diurapinya sehingga membuat dia jadi suci dari dosa-dosa, atau karena ia diurapi oleh sayap Malaikat Jibril dan dijaga dari sentuhan Syetan, atau Al Masih berarti orang yang salih. [21]
Ada orang-orang yang membedakannya dari sifatnya yang batiniah secara rohaniah  Isa Al Masih itu sendiri.  Razi mengatakan:
Rohnya (Isa Al Masih) adalah suci, tinggi derajatnya, syurgawi; terang benderang dengan cahaya kemulyiaan dan sangat dekat dengan roh-roh para malaikat. [22]
Jadi Isa Al Masih seperti malaikat-malaikat yang tidak perlu memohon pengampunan untuk diri mereka.  Ia tidak berdosa.
Gelar Isa yang menyandang “Roh Allah” juga membuktikan kesucian.  Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa ia disebut ‘Roh Allah’ karena:
Adalah menjadi kebiasaan orang yang menggambarkan sesuatu yang benar-benar suci dan bersih , mereka menyebutnya sebagai roh.. [23]
Ukuran tentang sampai di mana sucinya kenyataan Isa adalah seperti berikut: Allah, Yang Maha Tinggi, Dia sendiri menyebut Isa adalah ‘Roh dari Allah’.  Sementara setiap umat manusia telah ingkar dari kesetiaannya kepada Allah dan tidak lagi takut kepada Allah di suatu ketika dalam sejarah hidupnya tetapi Isa Al Masih tetap suci bersih, tidak disentuh oleh Syetan.
Rasa takut kepada Allah merupakan suatu tolok ukur keimanan seseorang di mata Allah, sebagaimana ayat Al-Qur’an menyatakan:
Hai manusia! Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan.  Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.  Yang teramat mulia di antaramu di sisi Allah, ialah orang yang lebih bertakwa.  Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan Mengenal. [24] .
Adalah semata-mata ketaqwaan atau kesalihan, dan bukannya tanda-tanda keindahan duniawi, kekayaan dan kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang sebagai status di hadapan Allah. Nabi-nabi dan para malaikat juga ditentukan statusnya oleh ketaqwaan mereka.  Tetapi malaikat lebih tinggi derajatnya daripada nabi-nabi karena:
Mereka para malaikat yang memangku Singgasana dan yang berada di sekitarnya menyuarakan puji kepada Tuhannya, beriman kepada-Nya dan meminta ampun untuk orang-orang beriman... (Al-Qur’an 40:7-9)
Razi mengulas:
Banyak ilmuwan menafsirkan ayat-ayat ini [25] sebagai suatu kesimpulan bahwa para malaikat lebih tinggi derajatnya daripada manusia.  Mereka mengatakan bahwa para malaikat tidak perlu memohon pengampunan bagi dirinya, karena bila mereka perlu pengampunan, mereka semestinya meminta pengampunan buat diri mereka sendiri terlebih dahulu, seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad: “Mulailah bertaubat untuk diri sendiri’.  Juga Allah  mengatakan kepada Nabi Muhammad: ‘... Maka ketahuilah (ya Muhammad) bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan, melainkan Allah dan minta ampunlah (kepada-Nya) untuk dosa engkau dan untuk (dosa) orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan.  Allah mengetahui tempat mencari penghidupanmu dan tempat diammu’ (Al-Qur’an 47:19).  Jadi Allah memerintahkan Muhammad untuk memohon pengampunan terlebih dahulu buat dirinya baru kemudian untuk orang lain ... Dan karena Allah tidak menyebutkan bahwa para malaikat tidak meminta pengampunan buat mereka sendiri, kita bisa menyimpulkan bahwa mereka tidak perlu meminta pengampunan.  Para nabi perlu pengampunan dari Allah dan ini sangat jelas dari firman Allah kepada Muhammad.  Kalau memang ini dipegang teguh maka semakin jelaslah bahwa para malaikat lebih tinggi daripada manusia. [26]
Dengan tidak perlunya pengampunan bagi para malaikat, nampaknya mereka lebih sempurna dalam kepatuhannya dan rasa takutnya kepada Allah, jadi mereka lebih mulia dan lebih tinggi derajatnya daripada manusia.  Tidak seperti halnya dengan manusia, para malaikat tidak perlu meminta pengampunan karena mereka terbebas dari dosa.  Isa Al Masih bisa disejajarkan dengan malaikat dan oleh karena itu, ia adalah sama-sama suci.

Isa Al Masih, yang Diberkati
Di samping tidak berdosa, Isa Al Masih juga diberkati.  Ia bukan hanya sempurna secara pasif , tetapi juga sempurna secara aktif . Al-Qur’an menyatakan tentang Isa:
Dan dijadikan-Nya pula aku seorang yang diberkati (Pembawa Bahagia) di mana saja aku berada. [27]
Menurut ayat ini, Isa diberkati tanpa syarat dan untuk selamanya. Andaikata ia tidak mematuhi Allah baik dalam pikiran atau perbuatan setiap saat, ia tidak akan mengatakan diberkati di manapun ia berada.
Kata ‘diberkati’ menurut penerangan Baidawi berarti ‘berguna bagi manusia’.  Dalam arti kata yang lain, Isa hidup bukan buat dirinya sendiri, tetapi ia hidup bagi seluruh umat.  Arti yang pasti dari ‘berguna untuk manusia’ dijelaskan oleh Razi yang mengatakan Isa:
Melalui Isa Al Masih, Allah membebaskan umat manusia dari segala macam tipuan, sama seperti manusia hidup dengan Roh-Nya. [28]
Isa tidak puas semata-mata bebas dari dosa, tetapi ia juga secara aktif  mencari jalan untuk membebaskan orang dari tipuan Syetan, musuh bebuyutan Allah.  Begitu penting upayanya sehingga Razi membandingkan Isa sebagai Roh yang memberi kehidupan kepada suatu tubuh.  Baidawi secara sama menggambarkan upaya Isa ketika ia mengatakan bahwa Isa “dahulu biasa menghidupkan tubuh yang mati begitupun hati yang mati menjadi hidup”. [29]
Isa Al Masih tidak hidup hanya menjaga kesucian dirinya, karenanya ia hidup menikmati hidupnya yang sempurna selaras dengan kehendak Allah.  Tetapi ia juga hidup dengan memberi berkat  kepada orang lain.  Jadi kesempurnaan Isa Al Masih bukan semata-mata pasif , yakni tidak berdosa; tetapi juga aktif  sebagai suatu sumber berkat .
Dalam seluruh Al-Qur’an tidak ada seorangpun yang dipanggil sebagai “diberkati” kecuali Isa Al Masih.  Adalah benar bahwa Al-Qur’an itu sendiri digambarkan sebagai suatu kitab suci yang diberkati. [30]
Perkataan itu juga digunakan kepada rumah suci yang pertama di Mekah yang telah dibina oleh para malaikat sebelum penciptaan Adam [31] , Malam Lailatul Qadr (malam di mana Al-Qur’an diturunkan) [32] .  Dan pohon zaitun di mana dianggap sebagai cahaya Allah atau Nurullah. [33]   Jadi Isa Al Masih disejajarkan dengan Al-Qur’an, rumah yang pertama kali dibangun di Mekah, Lailatul Qadr dan pohon zaitun yang diberkati.  Kendatipun demikian, satu-satunya orang yang digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai yang diberkati adalah Isa Al Masih.
Oleh karena itu, Isa Al Masih adalah tidak berdosa dan diberkati.  Syetan tidak bisa menyentuh Isa, yang tetap sempurna dalam hidupnya sepanjang hidupnya.  Di samping itu, Isa Al Masih dalam menghancurkan pekerjaan Iblis sangatlah sempurna sehingga ia digambarkan sebagai Roh yang memberi hidup, yang bisa menghidupkan mereka yang mati karena tipuan-tipuan Syetan.  Kesempurnaan Isa Al Masih adalah secara pasif dan juga aktif .  Oleh karenanya dalam hubungan ini ia memiliki sifat yang tidak ada bandingannya.

Sebagai Manusia yang Memberi Petunjuk yang Jelas
Jika sifat Isa Al Masih yang tidak berdosa dan diberkati itu membuat dirinya unik di antara nabi-nabi, maka petunjuk Allah yang diberikan atau ditanamkan dalam diri Isa adalah benar-benar unik.

Kemampuannya Mengetahui yang Ghaib
Pengetahuan tentang yang tidak bisa dilihat atau ghaib merupakan suatu sifat yang agung.  Seperti yang dinyatakan dalam Al-Qur’an:
Dan di sisi Allah kunci-kunci semua yang ghaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.  Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan.  Tidak sehelai daunpun yang gugur tentu diketahui-Nya juga.  Tidak sebutir-bijipun yang tersembunyi dalam gelap gulita di bumi dan tiada pula benda yang basah dan yang kering, yang tidak tertulis dalam kitab Lauhul mahfuzh. [34]
Muhammad sendiri menyatakan dalam Al-Qur’an bahwa ia tidak memiliki pengetahuan yang ghaib ketika ia mengatakan:
Katakanlah: “Aku tidak mampu meraih manfaat dan menolak kemelaratan untuk diriku sendiri, kecuali apa yang dikehendaki Allah.  Seandainya aku mengetahui perkara yang ghaib, sudah tentu aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya, dan waspada terhadap bahaya yang akan menimpa.  Aku tidak lain hanyalah Pemberi peringatan dan Pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. [35]
Dalam ayat lain dikatakan:
Katakanlah!: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaraan Allah ada padaku!  Karena aku tidak mengetahui yang ghaib.  Juga aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa aku seorang malaikat.  Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku”. [36]
Oleh karena itu, menurut Al-Qur’an, pengetahuan ghaib bukan urusan manusia.  Allah sendirilah yang mempunyai kekuasaan untuk memberikannya kepada yang Dia pilih. “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan seperti sekarang ini, namun Allah akan menyisihkan antara yang buruk dan yang baik.  Dan Allah tidak akan memperlihatkan hal-hal yang ghaib kepadamu, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara Rasul-Rasul-Nya.  Oleh karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.  Jika kamu beriman dan bertaqwa, niscaya kamu peroleh pahala besar.” [37]
Al-Qur’an menerangkan kepada kita bahwa Allah memilih Isa Al Masih untuk membukakan hal yang ghaib.  Dengan kehendak-Nya Allah memilih Isa Al Masih dari antara para pesuruh Allah untuk membukakan hal sekecil apapun dari kehidupan orang, termasuk “apa-apa yang mereka makan, dan apa yang mereka miliki sebagai kekayaan di rumah mereka”. [38] Mereka yang telah mengulas ayat tersebut di atas menyebutkan banyak ceritera tentang pengetahuan Isa Al Masih akan hal-hal yang ghaib.  Kekuasaan ini hanya kekuasaan Allah yang diberikan kepada Isa Al Masih sendiri di antara rasul-rasul lain.  Inilah sifat lain yang menambah keunikan Isa Al Masih.

Kemampuannya Melakukan Mujizat
Misi Isa Al Masih di bumi adalah memperbaiki umat manusia untuk mematuhi Allah.  Seperti yang telah ditegaskan sebelumnya, ia diberi kekuasaan yang unik untuk membebaskan umat manusia dari tipuan-tipuan Syetan.  Ia juga diberi kekuasaan untuk menyembuhkan orang dari penyakit badani sebagai suatu bukti bahwa ia dikirimkan Allah.
Kekuasaan Isa untuk menhancurkan pekerjaan Syetan lebih jauh ditunjukkan ketika ia menyembuhkan orang atau mereka yang sakit. Penyembuhan secara rohani jelas bisa menyembuhkan badan yang sakit.  Ini membuktikan bahwa perkataannya sepadan dengan perbuatannya.
Al-Qur’an mengatakan bahwa mujizat yang dilakukan oleh Isa Al Masih merupakan “tanda yang jelas” dari kekuasaan Allah.  Tanda yang jelas ini tidak diberikan kepada semua rasul. Al-Qur’an mengatakan:
Itulah keterangan-keterangan Allah.  Kami bacakan kepadamu hai Muhammad, dengan sebenarnya.  Dan engkau sesungguhnya seorang Rasul di antara rasul-rasul yang lain. Rasul-rasul itu Kami lebihkan seBagianmereka dari yang lain.  Diantaranya ada yang langsung Allah bercakap-cakap dengan dia, dan sebagiannya Allah mengangkat kemuliaannya beberapa derajat.  Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mujizat dan kami perkuat dia dengan Roh Suci.  Dan kalau Allah menghendaki  niscaya orang-orang yang berada sepeninggal rasul-rasul itu tidaklah akan saling membunuh setelah datang kepada mereka beberapa keterangan.  Namun mereka berselisih juga, ada di antara mereka yang beriman dan ada pula yang kafir.  Jika Allah menghendaki mereka tidaklah akan saling membunuh.  Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya [39]
Baidawi mengulas ayat tersebut di atas seperti berikut:
Allah menjadikan mujizat Isa Al Masih sebagai bukti kecintaan-Nya kepada Isa (melebihi rasul-rasul lain) karena semua mujizatnya adalah pertanda yang jelas dan luar biasa.  Dan semua mujizatnya tidak dilakukan oleh yang lain kecuali dia. [40]
Mujizat yang khusus dan istimewa ini membuktikan/menunjukkan bukan hanya kecintaan Allah kepada Isa daripada rasul-rasul lainnya tetapi juga merupakan ukuran dari kecintaan tersebut.  Allah memberikan beberapa rasul kemampuan melakukan beberapa mujizat, tetapi Bagianmujizat yang diberikan kepada Isa melebihi daripada apa yang diberikan kepada rasul-rasul lain.  Jadi kita bisa melihat bahwa dengan melakukan mujizat secara jasmani Isa Al Masih dibedakan.  Ini juga membuktikan kekuasaannya melakukan mujizat secara rohaniah  dilebihkan dari yang lain.  Jadi kemampuannya melakukan mujizat yang tidak bisa tertandingi baik secara jasmani maupun rohaniah  menunjukkan sifat Al Masih yang unik.

Kemampuannya untuk Mencipta
Sementara kekuasaan Isa Al Masih melakukan mujizat benar-benar tidak tertandingi, ukuran kekuasaan ini diberikan juga kepada beberapa nabi lainnya. Tetapi kekuasaan untuk mencipta hanya diberikan kepadanya.  Menurut Al-Qur’an, kekuasaan mencipta ini tidak dimiliki oleh nabi-nabi yang lainnya.
Al-Qur’an menantang orang kafir dengan menyatakan:
Hai manusia, telah dibuat orang perumpamaan mengenai Aku lalu dengar dan pahamilah baik-baik keadaannya, yaitu: segala yang disembah selain Allah itu tidak akan mampu membuat seekor lalatpun, sekalipun mereka bekerja-sama untuk itu.  Bahkan kalau lalat-lalat itu merampas sesuatu dari berhala itu, sang berhala tidak dapat merebutnya kembali dari sang lalat.  Yang menyembah dan yang disembah sama-sama lemah. [41]
Meskipun demikian menurut Al-Qur’an, Isa adalah satu-satunya orang yang diberikuasa oleh Allah untuk menciptakan sesuatu dari tanah liat. Al-Qur’an mengutip kata-kata Isa seperti berikut:
Dan akan dijadikan-Nya sebagai Rasul untuk Bani Israil.  Katanya: “ Aku ini datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yiaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah.  Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.  Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [42]
Jadi Al-Qur’an menjelaskan bahwa Isa memiliki kekuasaan untuk menciptakan sesuatu dari tanah liat, yang menurut beberapa orang sama dengan merubah tongkat Nabi Musa menjadi ular.  Kendatipun penapsir Al-Qur’an yang cermat membuktikan bahwa ini bukan hal yang dimaksudkan.  Dalam Al-Qur’an, Allah bertanya kepada Musa:
Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa?  Musa menjawab: “Inilah tongkatku, alat untuk aku bertelekan, juga untuk pemukul dahan-dahan kayu supaya daunnya berguguran untuk makanan kambingku, dan banyak lagi keperluanku yang lain dengan tongkat ini.  Allah berfirman: “Lemparkanlah tongkat itu, hai Musa”.  Segera Musa pun melemparkan tongkatnya, serta merta tongkat itu menjelma jadi seekor ular yang merayap dengan lincah. [43]
Ketika melihat ular itu melingkar yang dirubah dari tongkat, Musa berbalik dan lari dengan ketakutan.  Tetapi Allah memanggilnya seraya mengatakan: “Musa jangan takut”. [44]
Dalam kejadian di atas, Allah melakukan mujizat untuk meyakinkan Musa akan kekuasaan-Nya.  Ketika Musa melemparkan tongkatnya ia tidak mengharapkanny amenjadi ular, ketika ternyata menjadi ular, ia lari dengan ketakutan.  Jelas dalam kejadian ini, bukan Musa yang keluarkan langkah pertama, tetapi Allah-lah yang melakukan perubahan itu.
Mujizat yang sama juga dilakukan di depan Firaun ketika Allah “memberikan wahyu kepada Musa, “lemparkan tongkatmu”.  Sekonyong-konyong Ular (tongkat) itu menelan semua ular mereka.” [45]
Dalam kejadian tersebut, Musa tidak melakukan apa-apa lagi kecuali mentaati perintah Allah seperti sebelumnya.  Allah menyuruhnya untuk melemparkan tongkatnya dan Musa menurut saja.  Jadi yang berinisiatip adalah Allah bukannya Musa.  Memang itulah sifat-sifat bagaimana Allah memberikan mujizat kepada Musa, seperti yang bisa dilihat dari berbagai kejadian lainnya.  Contohnya, sewaktu Bani Israil sedang haus, ada perintah Allah menyuruh Musa untuk memukul batu [46] , dan ketika mereka keluar dari Mesir sebelum menyebrangi laut  Allah  memerintah Musa untuk memukulkan tongkatnya pada air laut ‘...lalu belahlah laut itu, sedangkan masing-masing belahannya seperti gunung yang besar’. [47]
Dalam setiap kejadian-kejadian tadi, Allahlah yang menjadi pembuat inisiatip.  Bukan Musa yang mengendalikan waktu dan cara bagaimana mujizat bisa dilakukan, tetapi Allahlah yang melakukannya.
Ketika Isa melakukan penciptaan, Allah membiarkan Isa melakukan inisiatip sendiri dalam melakukan mujizatnya dan memberikan hidup.  Ayat Al-Qur’an menggambarkan kegiatan-kegiatan Isa dalam pengertian berikut:
Aku ini datang kepadamu membawa tanda mujizat dari Tuhanmu yaitu aku dapat membuat dari tanah liat ini rangka burung untuk kalian, kemudian aku tiup lalu menjadi seekor burung dengan izin Allah.  Dan aku sanggup menyembuhkan orang buta, penyakit kusta, dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah.  Lagi pula aku dapat memberitahukan kepada kalian apa yang kalian makan dan apa yang kalian simpan di rumah kalian masing-masing. Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [48]
Isa tidak disuruh Allah menghidupkan orang yang mati atau menyembuhkan orang buta sebagaimana Musa.  Tetapi Allah melebihkan Isa dengan kekuasaan yang diberikan-Nya mempunyai hak berinisiatip. Musa tidak meniupkan sesuatu roh pada tongkatnya supaya menjadi ular, tetapi Isa meniupkan roh pada tanah dan jadilah makhluk hidup darinya.
Ibn ‘Arabi, seorang penulis Sufi agung dalam menjawab pertanyaan berikut, “Dengan cara bagaimana Allah membedakan setiap rasul?”, ia menjawab:
Allah memberikan Adam pengetahuan an Nama-nama Agung, kepada Musa dengan berbicara kepadanya dan dengan Taurat, dan membedakan Rasulullah [Muhammad] apa yang Muhammad sebutkan sendiri  “Ia diberikan kebesaran berbicara”.  Kepada Isa Allah membedakannya dengan  roh, ditambah dengan meniupkan roh pada yang ia ciptakan dari tanah, itu hanya kepada Isa saja,dan Allah tidak menambah kuasa untuk memberi kehidupan melalui hembusan  kepada rasul yang lain kecuali Isa, selain dari diri Allah Yang Maha Tinggi sendiri. [49]
Penciptaan makhluk hidup tidak begitu saja diberikan kepada nabi-nabi lainnya, tetapi hanya kepunyaan Allah semata dan hanya diberikan kepada Isa Al Masih.

Kemampuannya untuk Menghidupkan yang Mati
Al-Qur’an menyatakan dengan jelas bahwa Isa menghidupkan orang mati:
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, taurat dan Injil ...dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah. ... Semua ini adalah menjadi tanda buat kalian, kalau kalian benar-benar beriman. [50]
Hadis juga mendukung kenyataan ini dengan menyebutkan nama-nama orang yang dibangkitkan kembali oleh Isa Al Masih bahkan setelah tubuhnya membusuk. Para mufasir setuju bahwa kekuasaan untuk menghidupkan orang mati adalah keMaha-Kuasaan Allah; yang kepunyaan Allah sendiri saja. Al-Qur’an menyatakan:
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami sambil melupakan penciptaannya semula.  Ia bertanya: “Siapa pulakah yang dapat menghidupkan kembali tulang-belulang yang telah hancur?”  Jawablah: “Yang dapat menghidupkannya kembali, ialah Allah yang telah menciptakannya dahulu untuk yang pertama kalinya.  Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk”. [51]
Karena Allah sebagai Pencipta atau Sumber Hidup, maka Dia sendiri yang bisa menghidupkan orang yang mati.  Suyuti dalam ulasannya menghubungkan dua kejadian Isa menghidupkan orang yang mati dengan penekanan yang khusus – atas suara Isa.  Dalam kasus pertama Isa membangkitkan Sam anak Nabi Nuh:
Bani Israil datang kepada Isa memohonnya sambil berkata: “Sam anaknya Nuh dikuburkan di sini, tidak jauh.  Mohonlah kepada Allah untuk menghidupkannya kembali.  Isa kemudian memanggilnya dengan satu teriakan dan Sam keluar dari kubur dengan rambut beruban.  Orang-orang berseru: “Ia meninggal ketika ia masih muda, mengapa rambutnya jadi putih?” Sam menjawab: “Ketika aku mendengar suara Isa, aku pikir ‘satu teriakan’”. [52]
Dalam kasus kedua, Isa membangkitkan saudara laki-lakinya:
... Ketika Isa diberitahu di mana kuburannya, Ia memanggilnya dengan teriakan satu kali, saudara laki-lakinya keluar dengan rambut beruban/putih ... Isa bertanya kepadanya: ‘Apa yang terjadi kepadamu?’ Dia menjawab: ‘Aku mendengar suaramu dan aku pikir itu sebagai ‘satu teriakan’. [53]
Dari dua cerita di atas, kita bisa melihat suara Isa dipahami sebagai suatu teriakan yang akan membangkitkan orang mati di Hari Kiamat.  Orang-orang yang dibangkitkan memahami hal itu dan sampai rambut mereka berubah menjadi putih.
Acuan ini terdapat dalam Al-Qur’an 73:17:
Mana bisa kamu akan dapat menyelamatkan diri dari “huru-hara goncangan suatu hari”, di mana anak-anak dapat beruban karena memikirkan kedahsyatannya kalau kamu tetap saja kafir.
Dan dalam Al-Qur’an juga disebutkan pada 38:15: “Mereka tiada menanti, melainkan suatu teriakan yang tidak dapat ditarik kembali”.
Ibn ‘Arabi, dalam Fusus Al-Hikam, mengatakan tentang Isa menghidupkan kembali orang yang mati:
Katanya, ketika ia menghidupkan orang yang mati, memang dia dan bukan dia (yakni, yang bisa menghidupkan berkat kekuasaan Allah) dan orang yang menyaksikan tercengang seorang manusia bisa menghidupkan kembali orang yang mati, sementara dengan sifatnya yang agung menghidupkan orang hanya dengan suatu teriakan ... orang-orang yang menyaksikannya tetap bingung karena melihat tindakan yang agung itu dilakukan oleh seseorang yang berbentuk manusia (yaitu Isa). [54]
Qashani mengulas kata-kata Ibn ‘Arabi tersebut sebagai:
Kebingunan timbul ... begitu orang melihat seorang manusia tanpa suatu keraguan dan dari dirinya muncul sifat yang agung; yakni menghidupkan orang yang mati, dengan satu teriakan memohon berkat Allah.  Baginya (Isa) biasa berkata kepada orang yang mati “Hidup! Bangkitlah dengan izin Allah atau dengan Nama Allah, atau dalam Allah’; dan orang mati akan bangkit dan sambil menjawab, “Inilah aku, siap melayani (atau mengabdi)”. [55]
Dalam Hadis yang dikutip oleh Suyuti, Isa membangkitkan Sam dan saudara laki-lakinya hanya dengan suatu teriakan, bukan dengan doa.  Ia memanggil mereka dari dunia mati ke dalam dunia hidup kembali seperti memanggil seseorang dari satu kamar ke kamar yang lainnya.  Isa memiliki kewenangan atas dunia kematian. Al-Qur’an tidak menyebutkan ada nabi lain yang bisa menghidupkan orang mati dengan atau tidak seizin Allah.

PENGAKUAN ALLAH ADALAH LEBIH AGUNG

Para Nabi Menulis tentang Dia
Di Bagian pertama kita sudah melihat bahwa jelas nabi-nabi sungguh-sungguh memperlihatkan pada dua tokoh yang penting.  Mereka bernubuat tentang Al Masih yang benar sambil memperingatkan akan Al Masih palsu, yakni si Dajjal.  Razi mengatakan bahwa menurut para akhli pikir Muslim:
Isa disebut sebagai Firman Allah, karena telah dinubuatkan tentang dirinya dalam Kitab-kitab Suci nabi-nabi sebelumnya. [56]
Sebaliknya, Hadis memperingatkan akan datangnya si Dajjal, Al Masih yang palsu yang nabi-nabi peringatkan pula kepada bangsa/umatnya, seperti halnya Nabi Nuh peringatkan:
Aku peringatkan terhadap dia dan tidak ada satu orang nabipun yang tidak memperingatkan umatnya terhadap si Dajjal.  Bahkan Nabi Nuhpun mewanti-wantikan. [57]
Isa tidak dinubuatkan hanya sambil lalu saja oleh satu atau dua orang nabi.  Tetapi nubuat akan dia sangat jelas, banyak, dan spesifik bahwa ia disebut sebagai Firman Allah.  Nabi-nabi hanya bisa mengatakannya karena semata dikomunikasi oleh Allah, sehingga sangat jelas bahwa nabi-nabi sebelum dia meramalkan atau bernubuat akan dia. Tidak ada nabi lain yang mendapat perlakuan dan perhatian Ilahi yang sangat agung.
Jika perhatian seperti itupun diberikan kepada si Dajjal, itu adalah karena si Dajjal mewakili kegelapan dan penipuan yang luar biasa dalam sejarah umat manusia. Sedangkan perhatian yang serupa diberikan kepada Isa adalah karena ia mewakili yang sebaliknya.  Perhatian nubuatan agung yang diberikan kepada Isa adalah karena dia merupakan suatu manifestasi teragung nur/cahaya dan kebenaran yang ilahi dalam sejarah umat manusia.
Jika iblis dan orang kafir dengan kuatnya menentang Isa, para nabi yang diberi wahyu oleh Allah mengakui akan kekuasaan dan kepentingannya.  Nabi Yahya ialah salah satu contohnya.

Al Masih disujud ketika masih dalam Kandungan
Isa adalah satu-satunya nabi yang dijunjung tinggi selagi ia masih dalam kandungan ibunya.  Para mufasir sepakat bahwa Nabi Yahya adalah orang pertama yang percaya bahwa Isa adalah Firman Allah. [58]   Sebenarnya ia melakukan hal itu sementara mereka masih dalam kandungan ibu mereka. Razi melaporkan ceritera berikut yang juga dilaporkan oleh Ibn Khatir:
Ibu Isa bertemu dengan Ibunya yahya, keselamatan bagi mereka. Kedua ibu itu sedang hamil: yang satu mengadung Isa; yang satu lagi mengadung Yahya.
Ibu Yahya bertanya kepada Maryam, “Engkau rasakan ada bayi dalam kandunganku?” Maryam berkata: “Aku juga sedang mengandung.” Maka isteri Nabi Zakaria berkata: “Aku menemukan bahwa bayi di dalam kandunganku bersujud kepada bayi dalam kandunganmu”.
Inilah yang diartikan pengakuan Yahya atas percayanya kepada Isa sebagai Firman Allah, yang ditemukan dalam Al-Qur’an 3:39 ... Yahya akan mengakui kerasulan Isa yang dilahirkan dengan Kalimat-Cipta daripada Allah. [59]
Ibn Abbas mengakui kebenaran kepercayaan itu ketika ia mengatakan bahwa Yahya lebih tua enam bulan dari Isa, dan ialah yang pertama kali percaya dan mengakui Isa sebagai Firman Allah dan Roh Allah. [60]
Meskipun Yahya adalah seorang nabi yang besar [61] yang disebut sebagai seorang sayed [62] dalam Al-Qur’an (artinya ‘pemimpin orang-orang beriman’, [63] dan ‘orang penting sebagai penguasa dan pemimpin anutan dalam agama’) [64] , ia bersujud di dalam kandungan ibunya kepada Isa. Yahya adalah juga enam bulan lebih tua dari Isa.  Menurut kebiasaan atau adat, sebenarnya Isa yang seharusnya bersujud kepada Yahya karena ia lebih muda, tetapi dalam hal ini sebaliknya Yahya yang bersujud kepada Isa.
Adalah menarik untuk diperhatikan bahwa kita tidak diberitahu bahwa Isa percaya atau mengakui Yahya adalah seorang nabi, tetapi kita diberitahu bahwa meskipun Yahya lebih tua daripada Isa, dialah orang yang pertama sekali mengakui Isa adalah Firman Allah.  Meskipun keduanya adalah nabi, Yahya bersujud kepada Isa.  Isa patut mendapatkan penghargaan dan hormat yang lebih tinggi daripada seorang nabi karena ia lebih tinggi tingkatannya daripada nabi.  Ia adalah Firman Allah.

Al Masih Diberi Wahyu yang Sempurna
Al-Qur’an menyebutkan Isa sebagai telah diajarkan oleh Allah seluruh firman yang telah diwahyukan Allah:
Dan Allah akan mengajarkan kepadanya menulis dan membaca Kitab-kitab Suci, ilmu kebijaksanaan, Taurat dan Injil. [65]
Mengulas pada ayat ini, Razi mengatakan bahwa:
Ia yang mengetahui rahasia Kitab yang Allah Maha Tinggi wahyukan, kemudian Allah mewahyukan kitab lainnya setelah itu, dan menjelaskan dengan terang kepadanya semua rahasia-Nya, yang merupakan tujuan akhir, pemahaman yang sangat tinggi dan penguasaan rahasia-rahasia intelektual dan keagamaan, dan pengetahuan akan kebijaksanaan atau hikmah baik yang rendah maupun yang tinggi derajatnya. [66]
Baidawi menjelaskan bahwa ‘Kitab’ yang disebutkan dalam ayat tersebut merupakan “kata asli untuk Kitab-kitab yang telah diwahyukan”.  Menurut penyataan Al-Qur’an “Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil” sudahlah sempurna dan tidak ada lagi yang perlu ditambahkan, yang artinya mencakup semua firman Allah yang diwahyukan.
Jelaslah dari pernyataan di atas bahwa tidak ada nabi-nabi lain yang diberikan wahyu secara total dari Kitab-kitab Suci kecuali yang diberikan kepada Isa Al Masih.

Al Masih Diperkuat oleh Roh Suci
Sifat menonjol yang lainnya dari Isa ialah bahwa ia sendiri diakui dan dikuatkan oleh Roh Suci.  Isa selalu terus-terusan didampingi oleh Roh Suci dari mulai ia dalam kandungan sampai ia diangkat ke syurga.  Sebagaimana Al-Qur’an menyatakan:
Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab Taurat kepada Musa lalu Kami iringi sesudahnya beberapa orang Rasul dan Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa keterangan-keterangan mujizat, serta Kami perkuat dia dengan Roh Suci. [67]
Razi mengulas ayat ini sebagai berikut:
Hak istimewa dari Jibril (yakni Roh Suci) kepada Isa merupakan sifat atau ciri yang menonjol, sehingga dia satu-satunya nabi di antara para nabi yang dibedakan. [68]
Kemudian Razi mengatakan tentang Malaikat Jibril:
... yang menyampaikan kabar baik kepada Maryam tentang kelahiran Isa dan kehamilannya ditiupkan Malaikat Jibril; ia yang menyertai Isa dalam situasi apapun dan ia selalu menyertai gerak-gerinya setiap saat ke manapun Isa pergi. [69]
Jelaslah bahwa Roh Suci menyertai Isa dan sebagai kekuasaan yang mengawasi Isa sepanjang hidupnya.  Sebagaimana Razi katakan, Malaikat Jibril tidak meninggalkan Isa sesaatpun. [70]
Di lain pihak, Nabi Muhammad hanya dikunjungi atau didatangi oleh Malaikat Jibril.  Satu saat ia bertanya kepada Malaikat Jibril, ‘Apakah yang menahan anda tidak sering mengunjungi kami sekarang?’ Untuk pertanyaan tersebut, Malaikat Jibril menjawab: ‘Kami malaikat-malaikat turun ke bumi hanya karena perintah Tuhanmu’. [71]
Isa didampingi oleh Roh Suci secara kekal tanpa gangguan atau interupsi.  Untuk memahami kebersamaan Isa dan Roh Suci kita perlu mengetahui tentang tempat Roh Suci (Jibril) di Kerajaan Allah.
Menurut Razi, Malaikat Jibril adalah pemimpin dari semua pemimpin malaikat yang sangat tinggi di antara malaikat.  Kedudukannya dilengkapi dengan hak-hak istimewa tertentu dan tanggung-jawabnya yang diberikan Allah kepada Malaikat Jibril.
Pertama, Malaikat Jibril diberikan kepercayaan untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada para nabi. [72]
Kedua, Allah Yang Maha Tinggi menyebutkan Malaikat Jibril dalam Al-Qur’an sebagai memiliki kedudukan yang terdepan di antara para malaikat.  Malaikat Jibril adalah pemimpin malaikat yang berwenang memberikan inspirasi atau ilham dan pengetahuan, sementara Malaikat Mikail yang berwenang memberikan makanan dan kehidupan.  Karena pengetahuan atau ilmu adalah merupakan makanan roh, maka lebih mulia daripada makanan yang berbentuk fizikal .  Jadi Malaikat Jibril lebih tinggi harkatnya daripada Malaikat Mikail.
Ketiga, Allah membuat Malaikat Jibril mendapatkan kedudukan kedua dari-Nya.
Keempat, Allah menyebutnya sebagai Roh Suci.
Kelima, Malaikat Jibril diberikan kekuasaan untuk memenagkan umat yang berada di pihak Allah dan menghancurkan umat yang memusuhi Allah.
Keenam, Allah memuji Malaikat Jibril dengan mengatakan: ‘Sesungguhnya Jibril itu, berdaya ingatan amat kuat, di samping berkedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai Singgasana, disegani antara sesama malaikat, bahkan sangat dipercaya’ (Al-Qur’an, 81:20, 21).  Oleh karena itu, misi Malaikat Jibril adalah sebagai rasul Allah bagi semua nabi...daerah kekuasaannya (‘umah) adalah para semua nabi.  Ia mulia dihadapan Allah karena Allah membuat dia sebagai perantara antara Allah sendiri dengan abdi-abdi-Nya yang mulia...yakni para nabi.  Allah memberikan kedudukan kedua dari-Nya ... Malaikat Jibril adalah Imam dan Teladan dari para malaikat.  Ia terpercaya. [73]
Kita bisa mengambil kesimpulan dari keterangan di atas bahwa Roh Suci, yakni Malaikat Jibril, sebagai Pemimpin dan Imam dari semua malaikat.  Ia lebih mulia dari Malaikat Mikail, di mana ia mendapatkan kedudukan yang tertinggi karena ia menempati kedudukan kedua dari Allah Yang Maha Tinggi, dan ia adalah pesuruh bagi nabi-nabi, yakni dari seorang nabi kepada nabi-nabi yang lain.
Karena Isa tidak berdosa, ia selalu disertai Roh Suci. Andaikan ada cela dalam diri Isa, maka Roh Suci sudah tentu akan meninggalkannya paling sedikit selama saat tertentu dalam hidupnya.  Tetapi Isa terus-terusan menjadi pusat perhatian pemimpin malaikat (Jibril) yang mempunyai kedudukan kedua setelah Allah Yang Maha Tinggi.  Inilah suatu kehormatan yang unik yang hanya dimiliki oleh Isa Al Masih.

Al Masih Berkedudukan dekat dengan Allah
Razi mengatakan bahwa roh Isa Al Masih sebagai:
suci, tinggi, mulia, terang benderang dengan nur cahaya ilahi, dan sangat besar kedekatannya dengan roh-roh malaikat (atau sangat banyak mirip dengan roh para malaikat). [74]
Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa roh Isa sama dengan roh para malaikat, tetapi Isa lebih dekat di sisi Allah sendiri.  Ungkapan Razi mengandung arti bahwa roh Isa lebih dekat dengan malaikat, tetapi Al-Qur’an mengungkapkan bahwa Isa berada dekat di sisi tiada yang lain kecuali Allah. Kami baca dari Al-Qur’an, 3:45-47 bahwa para malaikat berkata kepada Maryam:
Dan ingat pulalah ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam!  Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang dekat kepada Allah.
Pengungkapan Razi dari arti kedudukannya dekat dengan Allah memberikan gambaran yang jelas dari kedekatannya ini:
Pujian ini sama besarnya dengan pujian yang diberikan kepada malaikat, sehingga Allah dengan keterangan ini telah memberikan peringkat atau derajat Isa sama dengan derajat dan mendapat kedudukan yang sama dengan para malaikat. [75]
Adalah penting untuk diketahui bahwa para malaikat yang disebutkan dalam ulasan Razi bukanlah malaikat biasa, tetapi mereka adalah malaikat-malaikat yang berada di sekitar Takhta Allah.
Sampai di mana dekatnya Isa dengan Allah?  Jawabannya secara jelas ditemukan dalam kenyataan bahwa Allah mengirimkan yang terdekat kepada-Nya yakni Roh Suci (Jibril) untuk berada dalam diri Isa.  Allah tidak mengirim Mikail atau Isofil tetapi hanyalah Pemimpin atau Imam dari semua malaikat, dan orang yang terdekat dengan Yang Maha Tinggi.
Menurut Razi, Malaikat Jibril bukan hanya dekat dalam kedudukan atau kepangkatannya, tetapi juga Malaikat Jibril berhubungan sangat dekat sekali dengan Allah.  Dalam penjelasannya tentang arti ungkapan ‘Roh Kami’ [76] , Razi menulis:
Dia (Allah) menyebut dia (Jibril) sebagai Roh-Nya karena dia sumber kehidupan agama atau menunjukkan kasih-Nya dan kedekatan-Nya kepada dia, seperti mungkin anda mengungkapkan kasih sayang kepada yang paling anda cintai sebagai ‘engkau adalah nyawaku atau jiwaku’. [77]
Jadi Malaikat Jibril tinggi derajatnya dengan Allah dan paling dikasihi Allah.  Hak istimewa Allah kepada Malaikat Jibril untuk menyertai Isa merupakan suatu petanda betapa berharganya Isa pada Allah atas nilai karunia yang diterima oleh yang menerimanya.  Tidak ada yang paling berharga daripada kekekalan penyertaan Roh Suci, kecuali Hadirat Allah itu sendiri.

Al Masih Diangkat dekat ke Sisi Allah
Al-Qur’an dengan jelas menyatakan bahwa Isa diangkat di sisi Allah dan ia hidup sekarang:
...Mereka membunuhnya dengan keraguan ...Tetapi yang sebenarnya Allah telah mengangkat derajat Isa ketempat yang mulia.  Dan adalah Allah Maha Perkasa dan Bijaksana [78]
...Allah berfirman: ‘Hai Isa! Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku, serta membersihkanmu dari tuduhan orang-orang kafir.  Dan pengikut-pengikutmu akan Aku jadikan lebih mulia daripada orang-orang kafir sampai pada hari kiamat. [79]
Al-Qur’an juga menggunakan perkataan “mengangkat” atau “meninggikan” yang ada kaitannya dengan Nabi Muhammad:
Dan Kami angkat keharuman namamu? [80]
Dalam kenyataan ini, kemashuran Nabi Muhammad yang diangkat, bukannya diri Nabi Muhammad itu sendiri.
Kata “ditinggikan” juga digunakan dengan kaitannya dengan Nabi Idris yang menurut cerita telah ‘diangkat ... ke atas tempat yang tinggi’. [81] Tempat mana yang diperuntukkan bagi Nabi Idris tidaklah diketahui.  Di samping itu, secara faktanya ia diangkat ke suatu ‘tempat’ yang mengindikasikan tempat secara jasmani bukannya secara rohaniah .  Razi mengatakan bahwa arti yang diinginkan utama adalah ‘ditinggikan’ karena pengangkatan Nabi Idris diasosiasikan dengan tempat secara jasmani dan bukannya derajatnya. [82]   Namun dalam hal Isa, Al-Qur’an menyatakan bahwa:
...Allah berfirman: ‘Hai Isa! Aku akan mewafatkanmu, dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku, serta membersihkanmu dari tuduhan orang-orang kafir.  Dan pengikut-pengikutmu akan Aku jadikan lebih mulia daripada orang-orang kafir sampai pada hari kiamat. [83]
Jelas sekali, Isa tidak diangkat ke tempat yang tinggi seperti Nabi Idris, tetapi ia diangkat ke sisi Allah. Razi mengulas ayat Al-Qur’an 4:158:
Pengangkatan Isa ... yang teruji dalam ayat ini dan kesamaannya dalam Al-Qur’an 3:55 itu membuktikan bahwa pengangkatan Isa ke sisi Allah merupakan suatu karunia yang nilainya lebih bessar daripada Firdaus itu sendiri dan kenikmatan-kenikmatan jasmani. Dan ayat itu sendiri membukakan kepada anda pintu ilmu/pengetahuan akan kesukacitaan rohaniah . [84]
Justru, menurut Razi, pengangkatan Isa ke sisi Allah itu lebih agung daripada Firdaus, dengan segala yang terdapat dalam ratusan tingkatnya, [85] baik tingkat yang paling bawah maupun yang tertinggi.  Dan apakah yang lebih besar dari Firdaus dan segala kenikmatan-kenikmatan jasmaninya?  Jawabannya ialah: Hadirat Allah. [86]
Razi menambahkan lagi artinya ayat “Dan mengangkat derajatmu di sisi-Ku” sebagai “Aku mengangkat derajatmu dalam Hadirat Kemuliaan-Ku”, [87] kemuliaan yang tertinggi untuk selama-lamanya.  Tidak seperti Nabi Idris. Isa tidak diangkat ke suatu tempat, karena ayat di atas tidak menyebutkan nama sesuatu tempat.  Sebaliknya, ayat itu berulangan menyatakan Isa telah “diangkat ke sisi Allah’, atau (seperti yang Razi nyatakan), ‘Isa telah diangkat ke Hadirat Kemuliaan Allah’ – yakni, untuk bersama Allah.  Ia lebih tinggi dari segala sesuatu. Semasa hayatnya di bumi, Isa dibedakan dan dikasihi dengan kehadiran terus-terusan Roh Allah.  Dan kini ia menikmati yang terunggul: Allah sendiri.

Al Masih Sebagai Pengetahuan Hari Kiamat
Keterangan ini telah dibahas di BagianPertama tetapi kita akan membahas secara singkat beberapa pandangan yang relevan pada Bagianini.  Meskipun Hadis mengungkapkan beberapa tanda-tanda tentang Hari Kiamat, Al-Qur’an secara tegas mengakui bahwa Isa sebagai pengetahuan saat Hari Kiamat:
Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar memberikan pengetahuan kepadamu tentang terjadinya kiamat, karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Kiamat itu, dan ikutilah petunujk-Ku.  Inilah jalan yang lurus. [88]
Beberapa mufasir mengatakan bahwa dalam ayat ini sebagai pengetahuan akan Hari Kiamat ialah Al-Qur’an itu sendiri.  Namun demikian mayoritas mufasir yang ternama mengatakan bahwa ayat itu mengacu ke Isa, di mana penjelasannya sebagai berikut:
Adalah ia, yang berarti Isa, yang merupakan suatu syarat Hari Kiamat diketahui. [89]
Saat-saat akhir ini diketahui oleh kemunculannya, yakni kemunculan Isa Al Masih, pengetahuan tentang Hari Kiamat. [90]

Ia (Isa) adalah tanda atau petanda akhir jaman atau ia sebagai saat-saat Hari Kiamat atau ia sendiri sebagai suatu syarat atau pensyaratan atas kejadian tersebut. [91]
Menurut penyataan-penyataan tadi, Isa sebagai suatu tanda dan persyaratan atas kejadian Hari Kiamat.
Beberapa orang mengatakan bahwa ia adalah pengetahuan Hari Kiamat, karena mujizatnya yang besar.  Shokani, dalam Fath al-Qadeer mengatakan bahwa:
...kelahiran Isa dari seorang perawan, dan bangkitnya dari kematian adalah sebagai bukti atas kebenaran kebangkitan kembali yang terakhir. [92]
Ibn-Khatir mengatakan bahwa:
Mujizat Allah yang diperlihatkan dengan perantaraan tangan Isa Al Masih dalam menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit, merupakan bukti yang cukup kuat bagi kepastian Hari Kiamat. [93]
Ibn-Khatir kemudian menolak pendapat bahwa ayat ini menyebutkan tentang Al-Qur’an sebagai petanda Hari Kiamat:
Yang benar ayat yang dimaksudkan mengacu kepada Isa Al Masih, karena konteks dari ayat itu adalah mengenainya, yang artinya bahwa Isa akan datang sebelum Hari Kebangkitan. [94]
Dalam ulasannya pada bagian kedua ayat tersebut, Ibn-Khatir mengatakan:
Janganlah ragu dan meragukan, karena ia pasti akan terjadi. [95]
Jadi, baik Shokani maupun Ibn-Khatir mengatakan bahwa mujizat-mujizat Isa Al Masih menghilangkan setiap keraguan tentang kenyataan Hari Kiamat.  Beberapa orang mungkin menyangkal kepastian akan Hari Kiamat tersebut tetapi Al-Qur’an dengan secara lugas menyatakan bahwa Isa Al Masih merupakan harapan akan kebangkitan kembali dan pembalasan dari Allah yang setimpal baik berupa hukuman ataupun imbalan.

Al Masih, Orang yang Terpilih oleh Allah dalam Pertempuran Terakhir
Hadis berulangkali mengatakan tentang si Dajjal yang akan munculsebelum Hari Kiamat, yang menyebabkan banyak masalah di dunia dan ia mengakui dirinya sebagai Allah Yang Maha Besar.  Sebuah Hadis mengatakan:
Tidak ada kekacauan atau masalah yang diciptakan sebanyak apa yang terjadi di waktu kehadiran si Dajjal kalau dihitung dari mulai Nabi Adam diciptakan sampai Hari Kiamat. [96]
Diakui bahwa Hazifah orang yang paling dipercaya, mengatakan bahwa:
Bila Al Masih palsu muncul ke dunia bahkan manusia di dalam kuburpun akan beriman kepadanya. [97]
Al-Qadi Abu Bakar Ibn al-‘Arabi (534 H) pula mengatakan:
Hadis-hadis yang menyebutkan si Dajjal (dalam Sahih Muslim) dan yang lainnya adalah merupakan bukti bagi para pengikutnya, yakni para pengikut Kebenaran akan adanya realitas tersebut dan si Dajjal adalah orang khusus dimana atas pengetahuan Allah umat manusia akan menderita karenanya.  Allah akan membuat si Dajjal memanifestasikan beberapa kuasa Allah Yang Maha Besar seperti membangkitkan lagi orang mati yang ia bunuh, bumi tumbuh subur atas kuasanya, Firdaus dan Nerakanya berupa dua sungai, disertai dengan melimpah ruahnya bumi, ia bisa menyuruh langit untuk menurunkan hujan dan bumi jadi subur karenanya. [98]
Namun Hadis juga mengungkapkan Isa akan datang untuk membunuh si Dajjal, dan ia datang untuk menegakkan kedamaian dan memulihkan keimanan mereka untuk beriman kepada Allah yang sesungguhnya.  Hal ini telah diterangkan dalam Bagian"Kembalinya 'Isa di Akhir Zaman" diatas.
Jadi menurut Hadis, Al Masih yang palsu akan datang sebelum Hari Kiamat.  Kemunculannya akan merupakan tipuan yang terbesar yang pernah dialami oleh umat manusia, dan merupakan manifestasi terakhir dari Syetan serta suatu bencana yang paling buruk atas keimanan seseorang terhadap Allah Yang Maha Besar sejak dunia diciptakan sampai Hari Kiamat.  Juga menurut Hadis, hanya Isa Al Masihlah yang mampu menghancurkan si Dajjal dan yang bisa memperbaiki keimanan terhadap Allah Yang Maha Benar dan Yang Kekal selamanya.
Bila Allah melihat peradaban manusia di ambang kehancuran, Allah tidak akan mengutuskan seorang nabi atau bahkan Malaikat Jibril imam para malaikat.  Pertempuran yang terbesar di abad itu akan dimenangkan oleh Isa Al Masih dengan kekuasaannya yang dalam waktu singkat saja sebagaimana dinyatakan oleh Hadis:
Isa anak Maryam akan turun ke bumi ... dan akan menjadi imam dalam sembahyang.  Bila musuh Allah (si Dajjal) melihatnya, ia akan hancur seperti garam dalam air. [99]
Mengapa Isa saja yang mampu menghancurkan si Dajjal?  Mengapa Allah menghantar Isa dan bukannya Musa, Ibrahim atau Idris?  Jawabannya bisa ditemukan dalam Hadis berikut:
Bila godaan-godaan merayap hingga teranyam dalam hati seperti anyaman tikar, hati yang menerimanya akan membentuk titik hitam sedangkan yang menolaknya hatinya akan membentuk titik putih. Lama-kelamaan akan terbentuklah salah satu diantaranya, apakah itu akan putih seperti pualam putih yang murni, yang tipuan tidak mampu mempengaruhinya selama langit dan bumi berpijak pada tempatnya; atau akan terbentuk hati yang hitam legam, yang banyak berdebu tak terurus seperti bejana yang terbalik yang tidak bisa lagi dipakai apapun. [100]
Sayuti mengutip Ibn ‘Abbas yang mengatakan:
... di antara mereka yang dilahirkan, hanya kepada Isa anak Maryam, Syetan tidak bisa berpengaruh ataupun menyentuhnya. [101]
Jadi Isa adalah lebih berkuasa ke atas si Dajjal yang tidak bisa mempengaruhi atau menguasainya. Oleh karenanya, Isa dipilih oleh Allah dalam Hari Kiamat.  Dialah satu-satunya yang mampu menyelamatkan dunia dari penipuan yang terbesar dan pengaruh iblis.

Al Masih yang Maha Tinggi Selamanya
Al-Qur’an menggambarkan hanya ada dua orang yang mempunyai sifat kebesaran/kemegahan yaitu Musa dan Isa.  Mengenai Musa, dikatakan:
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu seperti orang-orang yang menganggu Musa dengan tuduhan-tuduhan yang bukan-bukan, lalu Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka lontarkan itu, dan dia adalah seorang yang mempunyai kedudukan terhormat dalam pandangan Allah. [102]
Dan kepada Isa dinyatakan ketika malaikat berkata:
Hai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan berita gembira dengan sebuah Kata Cipta daripada-Nya, namanya Al Masih Isa bin Maryam, orang terhormat di dunia dan di akhirat, termasuk orang-orang yang terdekat kepada Allah. [103]
Musa dahulunya megah, tetapi kemegahan Isa adalah lebih bersifat abadi. Ia megah (wajih) bukan hanya dalam kehidupan di dunia ini tetapi juga kehidupan di akhirat.
Razi mengutip beberapa ulasan daripada akhli bahasa (linguist) Arab atas kata ‘wajih’:
Kata ‘wajih’ adalah orang yang terkenal.  Karena Bagiandaripada badan yang paling dimuliakan adalah wajah (akar kata dari ‘wajih’ adalah ‘wajh’ yang artinya wajah atau muka), jadi wajah dijadikan suatu metafor untuk kesempurnaan atau kebesaran. [104]
Musa adalah yang paling terkenal di antara semua nabi sampai Isa datang.  Perbedaannya dengan Musa ialah Isa lebih tinggi tingkatannya dari Musa, di mana ia tidak akan tertandingi di mana Al-Qur’an menyatakan bahwa Isa adalah ‘wajih’ baik selama kehidupannya di dunia maupun di hari akhirat.  Jika ada orang lainnya yang lebih tinggi daripada Isa, maka tidak akan disebutkan bahwa Isa akan ‘wajih’ di hari akhirat.
Hal ini dikuatkan dalam metafor Razi.  Hanya ada satu muka bagi setiap orang dan karenanya hanya ada satu orang yang lebih tinggi atau megah baik di kehidupan di dunia maupun di akhirat.  Makanya, Isa adalah ‘muka atau wajah’ dari kehidupan ini, yaitu anggota yang paling dihormati dalam kehidupan ini.  Dan ia juga merupakan ‘wajah atau muka’ yang paling dihormati di hari akhirat.  Keutamaan Isa ini jadinya berkelanjutan, tidak tertandingi dan sempurna sepajang zaman.
Mengulas atas arti ‘kemegahan dan kebesaran’, Shokani mengatakan: ‘kemegahan adalah kekuasaan dan kewenangan’. [105]
Apakah sifat alamiah dari kemegahan itu?  Baidawi dan mufasir lainnya mengatakan bahwa:
Kemegahan dalam kehidupan ini adalah kemampuan bernubuat atau meramal masa depan atau masa akan datang tentang apa yang akan terjadi, dan dalam kehidupan akhirat adalah mampu mendoakan orang (menengahi), membela dan menyelamatkan. [106]
Lebih rinci atas hal ini Razi mengatakan:
Isa diperbedakan atau wajih dalam kehidupan dunia ini, karena permohonannya dikabulkan.  Ia bisa menghidupkan orang yang mati dan menyembuhkan yang buta dan kusta dengan doa-doanya.  Ia besar atau megah di kehidupan akhirat karena Allah membuatnya bisa membela dan menyelamatkan umatnya yang benar dan Allah  menerima segala doa syafatnya bagi  mereka. [107]
Menurut Razi, kita bisa mendapatkan beberapa gagasan atau ide macam apa yang bisa diberikan kepada Isa dalam kehidupan akhirat dengan melihat pembelaan atau pengorbanannya selama berada di dunia.  Selama itu Isa Al Masih melalui pembelaannya bisa menghidupkan orang mati untuk hidup kembali. Pengorbanan pembelaannya lebih kuat dari kematian.  Dan pembelaannya di hari akhirat akan lebih kuat daripada Neraka.
Kemegahan Isa Al Masih (wajahah) di dalam kehidupan duniawinya sebagai suatu ukuran akan kemegahannya di hari kemudian atau akhirat.  Ucapan-ucapannya atau firmannya sangat kuat pengaruhnya baik kepada manusia maupun dengan Allah karena firman-firmannya itu sangat kuat untuk membersihkan mereka dari dosa-dosanya dan bisa menghidupkan orang mati.  Firman-firmannya lebih kuat dari dosa, kematian dan Neraka karena Neraka mendapat kekuatannya dari dosa.
Mengenai salah satu aspek dari kebesaran atau kemegahan Isa di dalam kehidupan di dunia, Baidawi mengatakan:
Allah membuat mujizat-mujizatnya karena kecintaannya yang lebih, di mana merupakan tanda-tanda yang jelas dan mujizat yang besar.  Bila mujizat-mujizat itu dipersatukan, tidak ada orang lain yang melaksanakannya. [108]
Dalam pandangan Baidawi, maka kemegahan Isa dalam kehidupan di dunia tidak tertandingi oleh sesiapapun, kemegahannya di hari akhirat pun sama tidak akan bisa tertandingi.

Footnote :
[1] Al-Qur’an,, 3:45-47.
[2] Al-Qur’an,, 13:8.
[3] Al-Qur’an, 21:16.
[4] Javad Nurbakhash, Jesus in the Eyes of the Sufis, Terbitan Khaniqahi-Nimatullahi, London, 1983, hal. 19.
[5] Al-Qur’an, 11:74.
[6] Al-Qur’an, 26:78-82.
[7]Al-Qur’an, 4:163.
[8] Al-Qur’an,, 28:16.
[9] Al-Qur’an, 38:24.
[10] Al-Qur’an, 94:1-3.
[11] Al-Qur’an, 48:2. Juga lihat Al-Qur’an. 40:55, 4:106, 47:19. Al-Qur’an menyatakan beberapa dari dosa-dosa ini.  Lihat juga Al-Qur’an. 9:43 dan 80:1.
[12]  Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid 8, Hadis No. 319. Berikut adalah contoh bagaimana Muhammad berdoa meminta pengampunan: “Ya, Allah!  Basuhlah segala dosa-dosaku dengan air dari salju, dan bersihkan hatiku dari segala dosa-dosa seperti jubah putih yang telah disucikan dari kotoran, dan biarlah ada jarak yang jauh antara aku dengan dosa-dosaku, seperti Engkau mencipta Timur dan Barat yang jauh antara keduanya”. Sahih Bukhari, Hadis 379.
[13] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid 8, Hadis No. 408.
[14] Ibid., Jilid 5, Hadis No. 715 : ‘Ya Allah! Ampunilah aku, dan curahkan belas-kasihan-Mu kepadaku.’
[15] Ibid., Jilid 4, Hadis No. 501.
[16] Al-Qur’an, 19:19.
[17] “Zakeyia” juga didapati dalam Al-Qur’an 18:74 untuk menjelaskan seorang anak kecil, tetapi dalam konteks yang berbeda.  Ia telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris oleh Arthur J. Arberry sebagai “tidak bersalah”, dan Galalan menginterpretasikannya sebagai “suci dari membunuh jiwa orang”.
[18] Sahih Bukhari, Arabic-English, Dar al-Fikr, Jilid 4, Hadis No. 506.
[19] Baidawi, mengulas ayat  Al-Qur’an 3:36.
[20] Suyuti, mengulas ayat   Al-Qur’an 3:36.
[21] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat  Al-Qur’an 3:45.
[22] Ibid., mengulas ayat  Al-Qur’an 4:157.
[23] Ibid., mengulas ayat  Al-Qur’an 4:171.
[24] Al-Qur’an, 49:13.
[25] Al-Qur’an, 40:7-9: ‘Mereka para malaikat yang memangku Singgasana dan yang berada di sekitarnya menyuarakan puja kepada Tuhannya, beriman kepadaNya dan meminta ampun untuk orang-orang beriman...’
[26] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat  Al-Qur’an 23:7.
[27] Al-Qur’an, 19:31.
[28] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an 3:39.
[29] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an 4:170.
[30] Al-Qur’an, 6:92, 155.
[31] Al-Qur’an, 3:96.
[32] Al-Qur’an 44:3.,
[33] Al-Qur’an, 24:35.
[34] Al-Qur’an, 6:59.
[35] Al-Qur’an, 7:188.
[36] Al-Qur’an, 6:50. (Lihat juga ayat 11:31)
[37] Al-Qur’an, 3:179.
[38] Al-Qur’an, 3:49.
[39] Al-Qur’an, 2:252, 253.
[40] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an 2:253.
[41] Al-Qur’an, 22:73.
[42]  Al-Qur’an, 3:49. (Juga lihat Surah 5:110).
[43]  Al-Qur’an, 20:17-20.
[44]  Al-Qur’an, 27:10.
[45]  Al-Qur’an, 7:117.
[46]  Al-Qur’an, 2:60.
[47]  Al-Qur’an, 26:63.
[48] Al-Qur’an, 3:49.
[49] At-Tirmizi, Kitab Khatm al-Awilya, (editor, Othman I. Yahya), Imperial Catholique, Beirut, 1965, hal. 169 (Diambil dari al-Fotuhat al-Makkiah,2;51, 52).
[50]  Al-Qur’an, 3:48, 49; Lihat juga  Al-Qur’an, 5:110.
[51]  Al-Qur’an, 36:78, 19
[52]  Suyuti, mengulas ayat Al-Qur’an 3:48, 49.
[53]  Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 3:48, 49.
[54] Qashani, memetik Ibn ‘Arabi ketika memberi ulasan tentang Fusus al-Hakim, hal. 176.
[55] Qashani, memberi ulasan tentang Fusus al-Hakim, hal. 176.
[56] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an 3:39.
[57] Sahih Muslim, Kitab al-Fitan wa Ashrat ‘as-Sa’ah, Hadis No. 7000.
[58] Razi, memberi ulasan ayat Al-Qur’an 3:39 mengatakan ‘... Yahya yang akan mengakui kerasulan Isa yang dilahirkan dengan Kalimat-Cipta daripada Allah’ mengatakan bahwa ‘Apa yang dimaksudkan sebagai “Kalimat-Cipta daripada Allah” itu ialah Isa, keselamatan bagi dia.  Ini adalah pilihan mayoritas mufassirin.’
[59] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 3:39.
[60] Ibid. (Lihat juga Suyuti yang memberi mengulas ayat yang sama)
[61] Suyuti, memberi mengulas ayat Al-Qur’an 3:39 mengatakan ‘Seorang penyeru memanggil dari syurga mengatakan bahwa Yahya adalah yang terbesar di antara mereka yang dilahirkan oleh wanita.’
[62] Al-Qur’an, 3:39.
[63] Galalayn, memberi mengulas ayat Al-Qur’an 3:39.
[64] Razi, at-Tafsir al-Kabir, atas ayat Al-Qur’an 3:39.
[65] Al-Qur’an, 3:48..
[66]Razi, at-tafsir al-Kabir, memberi ulasan ayat Al-Qur’an, 3:48.
[67] Al-Qur’an, 2:87.
[68] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas atas ayat  Al-Qur’an, 2:87.
[69] Ibid., mengulas ayat  Al-Qur’an, 2:87.
[70] Ibid., mengulas ayat  Al-Qur’an, 3:52-55.
[71] Sahih Bukhari, M. Muhsin Khan (terjemaham Inggeris), Jilid 4, Hadis No. 255.
[72] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat  Al-Qur’an, 2:30.
[73] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an, 2:30.
[74] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 4:157.
[75] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 3:45.
[76] Al-Qur’an, 19:17: ‘Kemudian Kami utuskan kepadnya Roh Kami (Jibril) yang menjelma dihadapannya seperti manusia biasa.’
[77] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an 19:17.
[78] Al-Qur’an, 4:157, 158.
[79] Al-Qur’an, 3:55.
[80] Al-Qur’an, 94:4.
[81] Al-Qur’an, 19:57.
[82] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 19:57.
[83] Al-Qur’an, 3:55.
[84] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,4:158.
[85] Yousef al_Qaradawi, ‘Elewah Mostafa’ dan ‘Ali Gammar, at-Twahid, Qatar, 1968, hal 205.
[86] Ini bukanlah sesuatu yang asing dalam  ilmu Tasawuf Islam.  Razi mengatakan bahwa orang-orang Muslim yang mengikut ilmu Tasawuf Moshabaha “memegang teguh ayat di atas dan mengambil kesimpulan bahwa Allah semestinya berada di tempat yang sama, di Syurga karena Isa telah diangkat secara jasmani ke sisi Allah untuk bersama-Nya.’ (Razi, at-Tafsir at-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:55).
[87] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an,4:158.
[88] Al-Qur’an, 43:61
[89] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[90] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[91] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[92] Shokani, mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[93] Ibn-Khatir., mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[94] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[95] Ibid., mengulas ayat Al-Qur’an 43:61.
[96] Kitab al-Fitan Wa Ashrat as-sa’ah, terjemahan oleh Sahih Muslim, Hadis No. 7037.
[97] Al-Hendy, Kanz al ‘Ommal, Jilid 18, Hadis No.771.
[98] Sahih Muslim, Kitab Al-Fitan wa Ashrat as-sa’sh, khaki nota no.4 dari Bagian20 dalam versi Bahasa Arab.
[99] Ibid., (edisi Bahasa Arab), Bagian9, Hadis No. 34-(2897),
[100] ‘Abd Al-‘Aziz ‘Ez Al-Din Al-Sirawany dalam Ahadith Said Al-Morsalin’ An Hawadeth ‘Al-Qarn ‘Al-“Eshrin (Edisi 1), Dar Al-Afaq Al-Jadidah, Beirut, 1982, hal 32. (Dari Sahih Muslim).
[101] Sayuti, mengulas ayat Al-Qur’an 3:36.
[102] Al-Qur’an, 33:69.
[103] Al-Qur’an, 3:45.
[104] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.
[105] Shukani, Fath al-Qadir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.
[106] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.
[107] Razi, at-Tafsir al-Kabir, mengulas ayat Al-Qur’an, 3:45.
[108] Baidawi, mengulas ayat Al-Qur’an, 2:253.


IMMANUEL
JESUS BLESSING

Tidak ada komentar:

Posting Komentar