Jumat, 08 Februari 2013

" PERANAN WANITA "


Wanita dijajah pria sejak dulu.
Dijadikan perhiasan sangkar madu.
Namun, ada kala pria tak berdaya.
Tekuk lutut di sudut kerling wanita.”
Demikian petikan syair lagu lama
berjudul Sabda Alam, ciptaan Ismail Marzuki. Ungkapan “wanita dijajah
pria” dan “pria tekuk lutut di sudut
kerling wanita”, menggambarkan
seolah-olah pria dan wanita
berhadapan sebagai lawan. Namun,
harus diakui bahwa penggambaran seperti itulah yang kerap terjadi
dalam kenyataan. Pria dan wanita
tidak berdampingan sebagai mitra,
tetapi sebagai pesaing; tidak saling
mendukung, tetapi saling
menundukkan; tidak saling melengkapi, tetapi saling mempreteli.

Hal ini jelas tidak sesuai dengan
rencana Allah ketika menciptakan
pria dan wanita. Di dalam Kejadian
1:27 dikatakan, “Maka Allah
menciptakan manusia itu menurut
gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan
perempuan diciptakan-Nya mereka.”
Artinya, baik pria maupun wanita
sama-sama segambar dengan Allah;
keduanya sama penting di hadapan
Allah. Sederajat. Sepadan.

Debora dan Barak memberi contoh
yang sangat baik tentang makna
kemitraan pria dan wanita. Mereka
bahu-membahu memimpin umat
Israel mengalahkan musuhnya.
Kuncinya adalah merendahkan hati untuk menyadari dan mengakui,
bahwa masing-masing, pria dan
wanita, saling membutuhkan. Pria
tidak lengkap tanpa wanita, wanita
tidak lengkap tanpa pria. Begitu
juga dalam keluarga. Suami dan istri sama-sama pentingnya. Kalau suami
itu “kepala” keluarga, istri adalah
“leher” keluarga. Dengan kesadaran
dan pengakuan demikian, pria dan
wanita bisa membangun relasi
berdasarkan saling menghargai dan menghormati.


IMMANUEL
JESUS BLESSING

Tidak ada komentar:

Posting Komentar